KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA
MATA KULIAH-SEJARAH INDONESIA
A. SISTEM KEPERCAYAAN HINDU BUDHA
Latar belakang sejarah sebagai bukti adanya akulturasi Islam dan budaya lokal. Sebelum Islam datang ke Indonesia, di Nusantara (Indonesia) telah berdiri kerajaan-kerjaan yang bercorak Hinduisme dan Budhisme. Seperti kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Akan tetapi setelah proses islamisasi dimulai sejak abad ke XIII, unsur agama Islam sangat memegang peranan penting dalam membangun jaringan komunikasi antara kerajaan-kerajaan pesisir dengan kerajaan-kerajaan pedalaman yang masih bercorak Hindu-Budha.
Setelah kerajaan Majapahit runtuh, maka muncul penggantinya di daerah pedalaman, muncullah kerajaan Mataram Islam tahun 1575 M. Karena masa peralihan yang lama antara kerajaan Islam pedalaman dan Islam pesisir, menyebabkan mereka saling berebut pengaruh yang menyebabkan terjadinya peperangan. Sultan Agung (1613 – 1645 M) dari kerajaan Mataram berusaha merebut kekuasaan kerajaan pesisir, sehingga unsur agama memegang peranan kembali, yakni di mata kerajaan-kerajaan pesisir kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam yang sinkritisme. Di keraton kesultanan berkumpul segolongan pujangga yang mencampuradukkan antara Islam dengan Hindu, seperti terbukti pada Babad Tanah Jawa yang mengandung pencampuran Islam dengan Hinduisme.
Dari kisah Babad Tahan Jawa itu, maka kita dapat melihat bahwa telah menyebabkan terjadinya pertentangan antara kerajaan Islam di pesisir dengan sikap ortodoksnya , dengan kerajaan Islam pedalaman yang sinkritisme. Disinilah awal munculnya pertentangan antara Islam Sinkritisme dan ortodoks dalam arti telah terjadi pergumulan antara mempertahankan kemurnian akidah dengan pencampuran akidah yang dilakukan oleh kerajaan Islam di pedalaman(Hindu Budha kedalam Islam) demi mempertahankan pemburuan hegemoni kekuasaannya.
Oleh karena itu, dalam menyikapi akulturasi budaya analisis dari perspektif sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Karena dalam proses Islamisasi di Indonesia tidak berjalan satu arah, tetapi banyak arah atau melalui berbagai macam pintu. Pintu-pintu itu, misalnya melalui kesenian, pewayangan, perkawinan, pendidikan, perdagangan, aliran kebatinan, mistisisme dan tasawuf.
B. HUBUNGAN AJARAN AGAMA YANG UNIVERSAL DENGAN SETTING BUDAYA LOKAL YANG MELINGKUPINYA.
Universalisme Islam adalah salah satu karakteristik Islam yang agung. Islam sebagai agama yang besar berkarakteristikkan:
(1) Rabbaniyyah,
(2) Insaniyyah (humanistik),
(3) Syumul (totalitas) yang mencakup unsur keabadian, universalisme dan menyentuh semua aspek manusia (ruh, akal, hati dan badan),
(4) Wasathiyah (moderat dan seimbang),
(5)Waqi‟iyah (realitas),
(6) Jelas dan gamblang,
(7) Integrasi antara al-Tsabat wa al-Murunah (permanen dan elastis)
Pada masa awal Islam, Rasulullah Saw berkhutbah hanya sebuah pelepah kurma. Kemudian, tatkala kuantitas kaum muslimin mulai bertambah banyak, dipanggillah seorang tukang kayu Romawi. Ia membuatkan untuk Nabi sebuah mimbar dengan tiga tingkatan yang dipakai untuk khutbah Jumat dan munasabah-munasabah lainnya. Kemudian dalam perang Ahzab, Rasul menerima saran Salman al-Farisy untuk membuat parit (khandaq) di sekitar Madinah. Metode ini adalah salah satu metode pertahanan ala Persi. Rasul mengagumi dan melaksanakan saran itu. Beliau tidak mengatakan: “Ini metode Majusi, kita tidak memakainya!”. Para sahabat juga meniru manajemen administrasi dan keuangan dari Persi, Romawi dan lainnya. Mereka tidak ! keberatan dengan hal itu selama menciptakan kemashlahatan dan tidak bertentangan dengan nas. Sistem pajak jaman itu diadopsi dari Persi sedang sistem perkantoran (diwan) berasal dari Romawi.
Islam, Bias Arabisme dan Akulturasi Timbal Balik dengan Budaya Lokal. Walaupun Islam sebagai agama bersifat universal yang menembus batasbatas bangsa, ras, klan dan peradaban, tak bisa dinapikan bahwa unsur Arab mempunyai beberapa keistimewaan dalam Islam. Ada hubungan kuat yang mengisyaratkan ketiadaan kontradiksi antara Islam sebagai agama dengan unsur Arab.
Menurut Dr.Imarah, hal ini bisa dilihat dari beberapa hal :
Pertama, Islam diturunkan kepada Muhammad bin Abdullah, seorang Arab. Juga, mukjizat terbesar agama ini, al-Quran, didatangkan dengan bahasa Arab yang jelas (al-Mubin), yang dengan ketinggian sastranya dapat mengungguli para sastrawan terkemuka Arab sepanjang sejarah. Sebagaimana memahami dan menguasai al-Quran sangat sulit dengan bahasa apapun selain Arab. Implikasinya, Islam menuntut pemeluknya jika ingin menyelami dan mendalami makna kandungan al-Quran, maka hendaknya mengarabkan diri.
Kedua, dalam menyiarkan dakwah Islam yang universal, bangsa Arab berada di garda depan, dengan pimpinan kearaban Nabi dan al-Quran, kebangkitan realita Arab dari segi “sebab turunnya wahyu” dengan peran sebagai buku catatan interpretatif terhadap al-Qur‟an dan lokasi dimulainya dakwah di jazirah Arab sebagai “peleton pertama terdepan” di barisan tentara dakwahnya.
Ketiga, jika agama-agama terdahulu mempunyai karakteristik yang sesuai dengan konsep Islam lokal, kondisional dan temporal, pada saat Islam berkarakteristikkan universal dan mondial, maka posisi mereka sebagai “garda terdepan” agama Islam adalah menembus batas wilayah mereka.
Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa bersamaan dengan meluasnya daerah Islam, muncullah banyak masalah dan bid‟ah, bahasa Arab sudah mulai terpolusikan, maka dibutuhkan kaidah-kaidah Nahwu. Ilmu-ilmu syari‟at menjadi keterampilan atau keahlian istinbath, deduktif, teoritisasi dan analogi. Ia membutuhkan ilmu-ilmu pendukung yang menjadi cara-cara dan metode-metode berupa pengetahuan undang-undang bahasa Arab dan aturan-aturan istinbath, qiyas yang diserap dari aqidah-aqidah keimanan berikut dalil-dalilnya, karena saat itu muncul bid‟ah-bid‟ah dan ilhad (atheisme). Maka jadilah ilmu-ilmu ini semua ilmu-ilmu keterampilan yang membutuhkan pengajaran. Hal ini masuk dalam golongan komoditi industri, dan sebagaimana telah dijelaskan, bahwa komoditi industri adalah peradaban orang kota sedangkan orang Arab adalah sangat jauh dari hal ini.
Gus Dur melihat Islam dan pluralisme itu dalam konteks manifestasi universalisme dan kosmopolitanisme dalam Islam. Menurutnya, ajaran yang dengan sempurna menampilkan universalisme adalah 5 (lima) jaminan dasar yang diberikan Islam kepada warga masyarakat, baik secara personal (individu) maupun sebagai kelompok (impersonal). Kelima jaminan dasar tersebut tersebar dalam literatur hukum agama (al-kutub al-fiqhiyah) lama, yang terdiri dari:
1) Keselamatan fisik warga masyarakat dari 10 tindakan badani di luar ketentuan hukum;
2) Keselamatan keyakinan agama masing-masing tanpa ada paksaan untuk berpindah agama;
3) Keselamatan keluarga dan keterunan;
4) keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum; dan
5) keselamatan profesi.
Secara keseluruhan, kelima jaminan dasar tersebut menampilkan universalitas pandangan hidup yang utuh dan bulat. Tetapi, kelima dasar itu hanya akan menyajikan kerangka teoritik atau mungkin hanya berdimensi moralistik belaka yang tidak berfungsi, jika tidak di dukung oleh kosmopolitanisme peradaban Islam, dimana ia muncul dalam sejumlah unsur dominan seperti hilangnya batasan etnis, kuatnya pluralitas budaya dan heterogenitas politik.
C. MASUKNYA AGAMA ISLAM
Indonesia wilayah Barat dan sekitar Malaka sejak dulu merupakan wilayah yang cukup strategis dalam hasil bumi yang melimpah dan menjadi daya tarik para pedagang. Wilayah itu menjadi daerah perlintasan yang cukup penting antara China dan India. Akibatnya di wilayah Sumatera dan Jawa antara abad ke 1 dan ke 7 M seringkali menjadi persinggahan para pedagang asing serta menjadi titik awal penyebaran Agama Islam.
Islam masuk ke Indonesia, tidak dilakukan dengan cara peperangan maupun penjajahan. Sebaliknya penyebaran Islam di Indonesia justru dengan cara damai. Berbagai cara perkembangan Islam di Indonesia diantaranya melalui jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan, politik, kesenian, tasawuf, yang kesemua cara tersebut banyak membantu dan mendukung meluasnya ajaran agama Islam. Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran persebaran Islam ke Indonesia salah satunya ialah pendidikan. Proses penyebaran Islam di Indonesia salah satunya melalui pendidikan, seperti pendidikan Pondok Pesantren yaitu tempat pembelajaran Agama bagi para santri, yang dilaksanakan oleh para guru agama, para kyai, dan para ulama.
Perkembangan Islam di Nusantara dalam berbagai bidang. Pertama, bidang politik. Perkembangan Islam dalam bidang politik dapat dibedakan dalam 5 masa, yakni masa penjajahan, masa kemerdekaan, masa pemerintahan di orde baru dan masa pemerintahan di orde lama dan masa reformasi. Kedua, Bidang Seni dan Budaya. Di Indonesia memiliki kesenian Islam. Namun dibandingkan dengan Negara lain, Indonesia cukup tertinggal dalam hal bidang kesenian Islam. Misalnya di kerajaan Mughal ada Taj Mahal yang merupakan salah satu seni arsitektur. Masyarakat Islam di Indonesia, memang menjadi pengikut bukan pemimpin. Namun demikian, Islam di Indonesia membawa perubahan yang berkemajuan.
Di Indonesia agama Islam yang datang adalah dari Islam tasawuf. Penduduk Indonesia lebih mengutamakan perdagangan daripada kesenian, karena Indonesia merupakan jalur perdagangan internasioanal.Masuknya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai, sehingga Islam bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Berbagai macam kesenianIslam di Indonesia diantaranya:Batu Nisan. Di Indonesia salah satu bentuk keseniannya islah batu nisan. Seperti ditemukannya di Aceh tahun 1292 yaitu makam Sultan malik Al Saleh. Pada batu tersebut tertulis hari dan tahun wafatnya serta ada tulisan Arab yang berisi tentang Al-Qur‟an.
Lalu, arsitektur (Seni Bangun). Terdapat dua model atau corak seni bangunan Islam di Indonesia yaitu Corak asli dan baru. Sebagai contoh bentuk dan model masjid di Indonesia berbeda dengan model masjid di negara-negara Islam lainnya. Karena model masjid di Indonesia banyak dipengaruhi seni bangunan Hindu dan Budha. Adapun ciri khasnya;Atapnya ber tumpang, yaitu atapnya dibuat secara bersusun; Tidak ada menara masjid-masjid tua. Selain itu, ada pula seni sastra. Seni sastra Indonesia dipengaruhi dari Persia. Diantaranya adalah buku Kalilah wa Dimmah, Abu Nawas dan lain-lain yang sudah diterjemakan ke dalam bahasa Indonesia. Sedangkan di bidang seni kaligrafi Indonesia tidak begitu menonjol. Juga Seni Mengukir. Di Indonesia seni ukir tidak banyak berkembang karena hal itu dilarang oleh Islam sebagaimana dalam hadis yang melarang melukis mahluk hidup.
D. PENDIDIKAN PADA MASA KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA
Proses Pendidikan Islam di Nusantara telah diselenggarakan pada masa kerajaan Islam pertama di Nusantara yaitu di Perlak pada tahun (840–1292 M), dan kerajaan samudra pasai pada tahun (1267-1521 M). Hal ini diungkapkan oleh seorang ilmuwan dari maroko yang berkelana ke berbagai negeri termasuk ke Indonesia yaitu Ibnu Batutah. Proses Pendidikan pada masa kerajaan Islam di nusantara selain dilaksanakan di Pulau Sumatra juga diselenggaara di pulau Jawa. Pendidikan Islam di Jawa dilaksanakan 14 oleh para wali songo, seperti Syeh Maulana Malik Ibrahim yang menyampaikan dakwah Islam melalui perdagangan dan pengobatan gratis dan memberikan pendidikan tentang bertani. Selain itu ada juga Sunan Ampel di Surabaya pada tahun 1443 M dengan dakwahnya soal aqidah dan ibadah. Beliau berdakwah dengan metode pendekatan ke masyarakat. Dalam pengembangan proses pendidikan Islam Sunan Ampel mendirikan pondok pesantren. Dan masih ada lagi para tokoh atau ulama wali songo lainya seperti sunan Kudus, sunan Bonang, sunan Kalijaga dan lainlain yang menyebarkan Islam di pulau Jawa
E. TEORI MASUKNYA ISLAM
Pertama, teori Arab. Teori ini menyatakan bahwa Islam dibawa dan disebarkan ke Nusantara langsung dari Arab pada abad ke-7/8 M, saat Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya. Tokoh-tokoh teori ini adalah Crawfurd, Keijzer, Niemann, de Hollander, Hasymi, Hamka, Al-Attas, Djajadiningrat, dan Mukti Ali. Buktibukti sejarah teori ini sangat kuat. Pada abad ke-7/8 M, selat Malaka sudah ramai dilintasi para pedagang muslim dalam pelayaran dagang mereka ke negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur.
Kedua, teori Cina. Dalam teori ini menjelaskan bahwa etnis Cina Muslim sangat berperan dalam proses penyebaran agama Islam di Nusantara. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada teori Arab, hubungan Arab Muslim dan Cina sudah terjadi pada Abad pertama Hijriah. Dengan demikian, Islam datang dari arah barat ke Nusantara dan ke Cina berbarengan dalam satu jalur perdagangan. Islam datang ke Cina di Canton (Guangzhou) pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650) dari Dinasti Tang, dan datang ke Nusantara di Sumatera pada masa kekuasaan Sriwijaya, dan datang ke pulau Jawa tahun 674 M berdasarkan kedatangan utusan raja Arab bernama Ta cheh/Ta shi ke kerajaan Kalingga yang di perintah oleh Ratu Sima.
Ketiga, teori Persia. Berbeda dengan teori sebelumnya teori Persia lebih merujuk kepada aspek bahasa yang menunjukan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara dan bahasanya telah diserap. Seperti kata “Abdas‟ yang dipakai oleh masyarakat Sunda merupakan serapan dari Persia yang artinya wudhu. Bukti lain pengaruh bahasa Persia adalah bahasa Arab yang digunakan masyarakat Nusantara, seperti kata-kata yang 18 berakhiran ta‟ marbūthah apabila dalam keadaan wakaf dibaca “h” seperti shalātun dibaca shalah. Namun dalam bahasa Nusantara dibaca salat, zakat, tobat, dan lain-lain.
Keempat, teori India. Teori ini menyatakan Islam datang ke Nusantara bukan langsung dari Arab melainkan melalui India pada abad ke-13. Dalam teori ini disebut lima tempat asal Islam di India yaitu Gujarat, Cambay, Malabar, Coromandel, dan Bengal. Teori India yang menjelaskan Islam berasal dari Gujarat terbukti mempunyai kelemahan-kelemahan. Hal ini dibuktikan oleh G.E. Marrison dengan argumennya “Meskipun batu-batu nisan yang ditemukan di tempat-tempat tertentu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat atau Bengal, seperti yang dikatakan Fatimi. Itu tidak lantas berarti Islam juga didatangkan dari sana”. Marrison mematahkan teori ini dengan menuujuk pada kenyataan bahwa ketika masa Islamisasi Samudera Pasai, yang raja pertamanya wafat pada 698 H/1297 M, Gujarat masih merupakan Kerajaan Hindu. Barulah setahun kemudian Gujarat ditaklukan oleh kekuasaan muslim. Jika Gujarat adalah pusat Islam, pastilah telah mapan dan berkembang di Gujarat sebelum kematian Malikush Shaleh. Dari teori yang dikemukakan oleh G.E. Marrison bahwa Islam Nusantara bukan berasal dari Gujarat melainkan dibawa para penyebar muslim dari pantai Koromandel pada akhir abad XIII.
Teori yang dikemukakan Marrison kelihatan mendukung pendapat yang dipegang T.W. Arnold. Menulis jauh sebelum Marrison, Arnold berpendapat bahwa Islam dibawa ke Nusantara, antara lain dari Koromandel dan Malabar. Ia menyokong teori ini dengan menunjuk pada persamaan mazhab fiqh di antara kedua wilayah tersebut. Mayoritas muslim di Nusantara adalah pengikut Mazhab Syafi‟i, yang juga cukup dominan di wilayah Koromandel dan Malabar, seperti disaksikan oleh Ibnu Batutah (1304-1377), pengembara dari Maroko, ketika ia mengunjungi kawasan ini. Menurut Arnold, para pedagang dari Koromandel dan Malabar mempunyai peranan penting dalam perdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar pedagang ini mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Nusantara-Melayu, mereka ternyata tidak hanya terlibat dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran Islam.
Kelima, teori Turki. Teori ini diajukan oleh Martin Van Bruinessen yang dikutip dalam Moeflich Hasbullah. Ia menjelaskan bahwa selain orang Arab dan Cina, Indonesia juga diislamkan oleh orangorang Kurdi dari Turki. Ia mencatat sejumlah data. Pertama, banyaknya ulama Kurdi yang berperan mengajarkan Islam di Indonesia dan kitabkitab karangan ulama Kurdi menjadi sumber-sumber yang berpengaruh luas. Misalkan, Kitab Tanwīr al-Qulūb karangan Muhammad Amin alKurdi populer di kalangan tarekat 19 Naqsyabandi di Indonesia. Kedua, di antara ulama di Madinah yang mengajari ulama-ulama Indonesia terekat Syattariyah yang kemudian dibawa ke Nusantara adalah Ibrahim al-Kurani. Ibrahim al-Kurani yang kebanyakan muridnya orang Indonesia adalah ulama Kurdi. Ketiga, tradisi barzanji populer di Indonesia dibacakan setiap Maulid Nabi pada 12 Rabi‟ul Awal, saat akikah, syukuran, dan tradisi-tradisi lainnya. Menurut Bruinessen, barzanji merupakan nama keluarga berpengaruh dan syeikh tarekat di Kurdistan. Keempat, Kurdi merupakan istilah nama yang populer di Indonesia seperti Haji Kurdi, jalan Kurdi, gang Kurdi, dan seterusnya. Dari fakta-fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa orang-orang Kurdi berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia.
F. KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM
1. Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan pertama yang ada di Indonesia yang menganut agama Islam. Secara geografis Kerajaan Samudra Pasai terletak di pesisir utara Sumatera, tepatnya ada di Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara. Kerajaan Samudra Pasai diperkiakan berdiri sekitar abad ke-13 M yang merupakan hasil dari proses islamisasi di sekitar pantai Sumatera oleh pedagang Arab, Persia, dan India mulai abad 7M.
2. Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh Darussalam merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar yang ada di Nusantara. Kerajaan Aceh terletak di ujung barat Pulau Sumatera yang menjadi tempat strategis bagi arus perdagangan laut internasional (lintas Samudera Hindia). Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1514 M oleh Sultan Ali Mughayat Syah.
3. Kerajaan Demak
Demak sebelumnya merupakan daerah yang dikenal dengan nama Bintaro yang merupakan daerah vasal atau bawahan Kerajaan Majapahit. Kekuasaan pemerintahannya diberikan kepada Raden Patah yang merupakan seorang keturunan Raja Brawijaya V yang ibunya menganut agama Islam dan berasal dari daerah Jeumpa, daerah Pasai.
4. Kerajaan Banten
Kerajaan Banten berlokasi di ujung Pulau Jawa yaitu daerah Banten dan berlangsung sejak tahun 1526 M hingga 1813 M. Sultan Maulana Hasanuddin sebagai raja pertama Kerajaan Banten, walupun begitu pendiri dari Kerajaan Banten adalah Syarif Hidaytullah atau yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
5. Kerajaan Kutai Kertanegara
Kerajaan Kutai Kertanegara adalah kerajaan Melayu yang bermula dari kerajaan Hindu pada tahun 1300 di Kutai Lama dan berubah menjadi kerajaan Islam pada 1575 serta berakhir pada 1960. Ibu kota kerajaan ini pada awalnya berada di Jaitan Layar sebelum berpindah ke Tepian Batu, kemudian ke Pemarangan-Jembayan hingga Tepian Pandan. Kerajaan Kutai Kertanegara berdiri pada awal abad ke-13 di daerah yang bernama Jaitan Layar atau Kutai dengan rajanya yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti yang berkuasa antara 1300-1325 M.
6. Kerajaan Banjar
Kesultanan Banjar atau Kesultanan Banjarmasin atau Kerajaan Banjar adalah sebuah kesultanan yang wilayahnya saat ini termasuk ke dalam provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Wilayah Banjar yang lebih luas terbentang dari Tanjung Sambar sampai Tanjung Aru. Kesultanan Banjar merupakan kerajaan bercorak Islam yang berdiri antara 1526 hingga 1905 Masehi di Banjarmasin.
7. Kerajaan Ternate
Kerajaan Ternate telah berdiri sekitar abad ke 13 Masehi. Kerajaan ini berada di Maluku Utara dan beribukotakan di Simpalu. Penyebaran Islam di kerajaan Ternate dipengaruhi oleh ulama-ulama dari Jawa, Arab dan Melayu. Kemudian, kerajaan ini pun resmi memeluk Islam setelah raja Zainal Abidin belajar tentang Islam dari Sunan Giri pada tahun 1486 Masehi.
8. Kerajaan Tidore
Kerajaan Tidore adalah kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara. Ketika didirikan pada abad ke-11 Kerajaan Tidore belum memeluk agama Islam. Kerajaan Tidore memeluk Islam sekitar abad ke 15 Masehi. Pada 1495, diketahui bahwa kerajaan ini berpusat di Gam Tina dengan Sultan Ciriliati atau Sultan Djamaluddin sebagai rajanya.
9. Kerajaan Gowa Tallo
Kerajaan Gowa Tallo merupakan kerajaan kembar yang menjalin persekutuan, kerajaan ini juga disebut dengan Kerajaan Makasar. Kerajaan Gowa Tallo adalah sebuah kerajaan dan kesultanan yang berpusat di daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di jazirah selatan dan pesisir barat semenanjung yang mayoritas didiami oleh suku Makassar. Kerajaan Gowa Tallo menerima ajaran agama Islam dari Gresik atau Giri yang tersebar dalam proses Islamisasi diseluruh Nusantara. Raja Gowa Tallo yang pertama memeluk agama Islam bernama Raja Alauddin.
10. Kerajaan Buton
Kerajaan Kesultanan Buton merupakan kerajaan Islam yang terletak di Sulawesi Tenggara. Kerajaan ini telah lama berdiri bahkan sebelum agama Islam masuk ke wilayah Sulawesi. Kerajaan Buton atau Kesultanan Buton berdiri sejak tahun 1332 hingga 1960 Masehi.
G. KEHIDUPAN MASYARAKAT MASA ISLAM
1. Kehidupan Masyarakat Islam
Pada abad ke-7 Masehi para pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat mulai singgah di beberapa daerah pesisir Sumatra. Sehingga terjadilah hubungan dagang antara para pedagang dengan masyarakat setempat. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh para pedagang memperkenalkan ajaran dan nilai-nilai Islam kepada masyarakat di Indonesia. Cara penyebaran agama islam yaitu: perdagangan, perkawinan, politik, pendidikan, kesenian, dan Tasawuf.
2. Perkembangan di Indonesia
Pengaruh Islam diperkirakan telah masuk ke Indonesia sejak abad ke-7. Islam dibawa langsung oleh para pedagang Arab, Persia, dan India (Gujarat). Masuk dan berkembangnya Islam di berbagai wilayah Indonesia tidak pada waktu yang bersamaan. Hal ini dikarenakan:
1) Indonesia terdiri dari banyak pulau. Di berbagai wilayah Indonesia terdapat kerajaan- kerajaan Hindu dan Budha pada saat kedatangan Islam. Di Sumatera, misalnya ada kerajaan Sriwijaya dan Melayu, di Jawa ada kerajaan Mataram, Majapahit, Sunda, dan di Kalimantan ada kerajaan Nagara, Daha, dan Kutai.
2) Masyarakat daerah pantai mengembangkan ekonomi maritim, berdagang dan berlayar, sehingga dimungkinkan lebih banyak berhubungan dengan suku atau bangsa lain dibandingkan.
H. PENINGGALAN ISLAM
1. Kerajaan Samudera Pasai
a. Kehidupan Politik
Kerajaan Samudra Pasai dibangun oleh Marah Silu. Dia berhasil mempersatukan Samudra dan Pasai. Marah silu memeluk agama Islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail, seorang utusan Syarif Makkah. Pada tahun 1285, Marah silu kemudian dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Sultan Malik As Saleh. Setelah Sultan Malik As Saleh wafat pada tahun 1297, jabatan sultan kemudian diteruskan oleh putranya yaitu Sultan Malik At Thahir. Sultan Malik At Thahir memiliki dua orang putra, yaitu Mahmud dan Malik Al Mansyur. Kedua orang putranya itulah yang kemudian mewarisi tahta kerajaan, kemudian ibu kota kerajaan dipindahkan ke Lhokseumawe. Pemegang kekuasaan selanjutnya adalah Sultan Ahmad Perumadat Perumal.
Pada masa pemerintahannya, Samudra Pasai telah menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Delhi (India). Hal tersebut dibuktikan ketika Muhammad Tughlug dari India pada tahun 1345 mengirimkan utusannya, Ibnu Batutah ke Cina. Ia singgah terlebih dahulu di Samudra Pasai. Sekembalinya dari Cina pada tahun 1346, Ibnu Batutah singgah lagi di Samudra Pasai dan diterima dengan baik oleh Sultan Ahmad.
b. Kehidupan Ekonomi, Sosial, dan Budaya
Karena letaknya yang sangat setrategis, Samudra Pasai berkembang dengan cepat menjadi pusat perdagangan dengan pusat studi Islam yang ramai. Banyak pedagang dari berbagai daerah seperti di Benggala, Gujarat, Arab, dan Cina yang berdatangan di Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai mengalami kemunduran setelah mendapat serangan dari Majapahit yang ingin menyatukan Nusantara. Setelah majapahit meyakini adanya hubungan antara Samudra Pasai dengan Kesultanan Delhi di India, pada tahun 1349 Samudra Pasai diserang dan mengalami kehancuran. Sejak itu, samudra Pasai makin mundur dan diperparah dengan berpindahnya pusat perdagangan ke Pulau Bintan dan Aceh Utara. Pada akhirnya Samudra Pasai dapat ditaklukkan oleh Kesultanan Aceh.
2. Kerajaan Aceh
a. Kehidupan Politik
Sultan pertama yang memerintah sekaligus pendiri Kerajaan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Kerajaan Aceh mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Bandar Aceh dibuka menjadi bandar internasional dengan jaminan pengamanan gangguan laut dari kapal perang Portugis. Wilayah Aceh terbentang dari daerah Deli sampai ke Semenanjung Malaka. Namun belum dapat menguasai Malaka karena diduduki oleh Portugis. Pengganti Sultan Iskandar Muda adalah Sultan Iskandar Thani. Masa pemerintahaanya tidak lama karena ia tidak memiliki kepribadian dan kecakapan yang kuat seperti Sultan Iskandar Muda. Kerajaan Aceh terus mengalami kemunduran karena beberapa faktor sebagai berikut :
1) Kerajaan Aceh mengalami kekalahan dengan perang melawan Portugis di Malaka. Dalam perang tersebut jatuh banyak korban jiwa dan harta benda.
2) Tidak adanya tokoh yang cakap yang memerintah Aceh sepeninggal Sultan Iskandar Muda.
3) Daerah-daerah taklukan yang jauh dari pemerintahan pusat mulai melepaskan diri dari pengaruh Aceh seperti Johor, Perlak, Pahang, Minangkabau, dan Siak.
b. Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Dilihat dari segi kehidupan sosial, kemakmuran rakyat semakin meningkat sehingga menyebabkan berkembangnya sistem feodalisme. Kaum bangsawan yang memegang kekuasaanya dalam pemerintahan sipil disebut golongan teungku. Persaingan kedua golongan itu mengakibatkan lemahnya kedudukan Aceh. Di samping itu, kehidupan sosial dalam masyarakat Aceh lebih banyak didasarkan pada ajaran agama Islam. Pada masa kejayaan Aceh, perekonomian Aceh mengalami perkembangan yang sangat pesat, Daerah Aceh yang subur banyak menghasilkan lada. Pada masa itu, aktivitas perekonomian Kerajaan Aceh telah berkembang sampai jauh keluar wilayah kerajaan. Bahkan negara-negara Barat telah melakukan perdagangan di wilayah Aceh. Kapal-kapal dagang Aceh 36 juga aktif dalam pelayaran dan perdagangan sampai ke wilayah Laut Merah.
Aceh juga mengalami kemajuan dalam bidang sosial-budaya. hal ini terlihat dengan disusunnya suatu undang-undang tentang tata pemerintahan yang disebut dengan "Adat Makuta Alam". Sastra dan filsafat di Aceh juga mengalami kemajuan. Pada masa itu muncul nama Hamzah Fansuri, seorang ulama besar yang mengajarkan ilmu tasawuf dan mengarang buku tentang filsafat agama Islam dan syiar keagamaan. Ajaranya diteruskan dan disebarkan oleh muridnya yaitu Syamsuddin Pasai. Di sisi lain ada seorang ulama besar yang bernama Nuruddin Ar Raniri. pengarang buku sejarah Aceh yang sangta menentang ajaran Hamzah Fansuri. Dalam buku sejarah Aceh yang diberi nama Bustanussalatin (Taman Segala Raja) menguraikan tentang adat istiadat masyarakat Aceh dan ajaran agama Islam.
3. Kerajaan Gowadan Tallo
a. Kehidupan Politik
Perkembangan pesat kerajaan Makasar tidak terlepas dari raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Makasar. Berikut ini adalah raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Makasar, di antaranya sebagai beikut:
1) Sultan Alaudin
2) Sultan Hasanuddin
3) Raja Mapasomba
b. Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Makasar diwarnai dengan ajaran agama islam. Mayoritas masyarakat Makasar beragama Islam sampai sekarang. Pada masa pemerintahan Sultan Alaudin, ia sangat giat mengislamkan rakyatnya. Ia memperluas daerah kekuasaan bukan hanya pada daerah dan pulau di 40 sekitarnya, melainkan juga sampai di bagian timur Pulau Sumbawa dan Lombok. Mereka juga berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dengan berpegang teguh pada keyakinan, bahwa Tuhan menciptakan lautan untuk semua hamba-Nya. Kehidupan ekonomi masyarakat Makasar bertumpu pada sistem kelautan yang dimilikinya.
Makasar yang berkembang sebagai pelabuhan internasional banyak dikunjungi oleh pedagang asing seperti Portugis, Inggris, dan Denmark. Mereka datang ke Makasar melaksanakan kegiatan dalam bidang perdagangan. Pedagang-pedagang Makasar memegang peranan penting dalam perdagangan di Indonesia dan mereka menggunakan perahu seperti penisi dan lambo. Hal itu menyebabkan mereka berhadapan dengan belanda dan menimbulkan perlawanan di mana-mana. Belanda yang merasa berkuasa atas daerah maluku sebagai sumber rempah-rempah menganggap Makasar sebagai pelabuhan gelap. Di pelabuhan Makasar diperjualbelikan rempahrempah yang berasal dari Maluku. Untuk mengatur pelayaran dan perniagaan dalam wilayahnya, disusunlah hukum perniagaan yang disebut "Ade Allopiloping Bicaranna Pabbalu'e" pada sebuah naskah lontar tentang hukum laut karya Amanna Gappa.
Kehidupan budaya masyarakat Makasar sangat dipengaruhi oleh keadaan Kerajaan Makasar yang bersifat 38 maritim. Hasil budayanya seperti alat penangkap ikan dan kapal pinisi. Sampai sekarang kapal penisi dari Sulawesi Selatan menjadi salah satu kebanggan bangsa Indonesia. Di samping itu, masyarakat Kerajaan Makasar juga mengembangkan seni sastra yaitu Kitab Lontar.
Macam-macam Peninggalan Sejarah Bercorak Islam Islam terkenal dengan kebudayaannya yang benilai tinggi. Hal ini dibuktikan peninggalan-peninggalannya diberbagai daerah.
a. Masjid
Masjid merupakan tempat ibadah pemeluk agama Islam. Beberapa masjid peninggalan kerajaan Islam pada antara lain masjid Aceh dan Indrapura (Nanggroe Aceh Darussalam), Masjid Banten (Banten), Masjid Demak dan Kudus (Jawa Tengah), serta Masjid Sendangduwur (Jawa Timur).
b. Makam
Makam merupakan tempat untuk menguburkan orang yang sudah meninggal. Makam raja atau tokoh penyebar Islam menjadi peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. Beberapa makam tersebut antara lain makam Sultan Malik as-Saleh dan Sultan Iskandar Muda (Pasai, Nanggroe Aceh Darussalam), makam Maulana Malik Ibrahim (Gresik, Jawa Timur), makam raja-raja Gawa Tallo (Makassar, Sulawesi Selatan), serta makam wali sanga.
c. Keraton
Keraton adalah bangunan yang luas untuk kediaman raja. Beberapa contoh keratin antara lain Keraton Kasunanan Surakarta (Jawa Tengah), Keraton Yogyakarta (DI Yogyakarta), Kasepuhan dan Kanoman Cirebon (Jawa Barat), Kasultanan Ternate (Maluku Utara), serta Kasultanan Deli (Sumatra Utara).
d. Karya Sastra
Beberapa bentuk karya sastra peninggalan Islam sebagai berikut:
1) Hikayat, yaitu karya sastra yang berisi cerita yang dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat, atau hanya untuk meramaikan pesta. Contohnya, hikayat raja-raja Pasai dan hikayat Hang Tuah.
2) Suluk, yaitu kitab yang berisi ajaran tasawuf. Contohnya, Suluk Sukarasa, Suluk Wujil, dan Suluk Malang Sumirang.
3) Babad, yaitu cerita yang mengandung kisah sejarah. Contohnya, Babad Tanah Jawi dan Babad Giyanti (karya Yasadipura). Penyebar agama Islam di Pulau Jawa dilakukan oleh wali sanga. Wali sanga artinya Sembilan wali yang menjadi pelopor dan pejuang pengembangan agama Islam. Kesembilan wali tersebut adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Banang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria.