Sabtu, 18 Juni 2022

SEJRAH INTELEKTUAL

SEJARAH INTELEKTUAL

MATA KULIAH-ILMU SEJARAH

Pengertian Sejarah Intelektual

Merupakan sejarah yang lebih menekankan pada pemikiran, ide-ide, atau nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan umat manusia dari masa kuno hingga dewasa ini. Sejarah intelektual dalam bahasa Sartono Kartodirdjo adalah mencoba mengungkapkan latar belakang sosio-kultural para pemikir, agar dapat mengekstrapolasikan faktor-faktor sosio[1]kultural yang mempengaruhinya. Dengan demikian, kita tidak mudah jatuh ke suatu absolutisme atau determinisme.

B.    Ruang Lingkup Sejarah Intelektual

1.     Pemikiran Mitologis

Pemikiran ini secara positif dipahami sebagai awal dari perkembangan pemikiran manusia. Pemikiran mitis yaitu suatu pola pikir yang menyatakan bahwa diri manusia berada di dalam kungkungan kepercayaaan-kepecayaan kekuatan gaib alam (hukum-hukum alam) dan para dewa. Pemikiran mistis secara jelas tampak pada kebudayaan masyarakat primitif, di dalam mana tingkah laku manusia secara langsung melibatkan diri dengan para dewa sebagai sumber kekuatan alam yang serba misterius.

2.     Pemikiran Filosofis

a.     Pemikiran Filosofis Parmenides dan Heracleitos

Parmenides berpendapat bahwa “arche” (materi terdalam) adalah sesuatu yang bersifat tetap tidak berubah, dan hanya ada satu.

b.     Idealisme Plato Versus Realisme Aristoteles

1.     Idealisme Plato (427-347 SM)

Manusia, bagi Plato berada di dalam dua dunia, yaitu dunia ide dan dunia jasmani. Diri manusia merupakan gabungan dari dua dunia yang sama sekali berbeda, yaitu jiwa dan raga.

2.     Realisme Aristoteles

Aristoteles menerima baik permacam-macaman maupun idea-idea kesamaan itu keduanya realistik adanya. Sedangkan Plato menolak permacam-macaman itu sebagai kebenaran dan menerima dunia idea sebagai kebenaran satu-satunya.

c.     Kaum Intelektual

Kaum intelektual adalah kaum yang menempatkan nalar (pertimbangan akal) sebagai kemampuan pertama yang diutamakan, yang melihat tujuan akhir upaya manusia dalam memahami kebenarannya dengan penalarannya.

d.     Pemikiran Fungsional

1.     Rasionalisme

Berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama.

2.     Empirisme

Suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Rasionalisme berlawanan dengan Empirisme.

3.     Kritisme

Menurut Kant, kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanan dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Kritisisme Kant merupakan buah usaha raksasa untuk menjembatani Rasionalisme dan Empirisme. Kritisisme yang diperkenalkan pertama kali oleh Immanuel Kant (1724-1804).

4.     Positivisme

Wahyu dan agama ditumbangkan dari kedudukannya dan diganti tradisi sebagai pegangan dan kepastian pikiran. Aliran ini disebut tradisonalisme.

5.     Eksistensialisme

Ciri-ciri umum

1. Orang dinilai dan ditempatkan pada kenyataan yang sesungguhnya sebagaimana yang ada (eksis).

2. Orang harus berhubungan dengan dunia yang ada.

3. Manusia merupakan satu kesatuan sebelum ada perpisahan antara jiwa dan badannya

4. Orang berhubungan dengan segala sesuatu yang ada.

C. Pemikiran Pragmatis, Modernisme Ke Postmodernisme, dan  Postkolonial

            a. Pemikiran Pragmatisme

Berasal dari kata bahasa yunani yaitu pragma yang berarti tindakan, perbuatan. aliran filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Oleh sebab itu kebenaran sifatnya relatif tidak mutlak. Pemikiran tentang Teori Pragmatisme dikembangkan oleh Charles Sander Peierce (1839- 1914), dan Williams James (1824-1910), Williams James (1824-1910) mengajarkan bahwa ukuran kebenaran sesuatu hal ditentukan oleh akibatnya.

b.     Pergeseran Era Pramodern Ke Modern

Sebelum kehidupan modern bermula, pemikiran masa pramodern selalu menempatkan Allah sebagai pusat dari segala pemikiran, kebudayaan dan masyarakat. Bermula dari Renaissance dan humanisme yang berhasil membuat perubahan yang radikal, tema yang berpusat pada Tuhan berbelok ke arah manusia.

c.     Dari Modernism Ke Postmodernisme

Postmodernisme menggantikan optimisme dengan pesimisme. Harapan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik di masa depan pun dianggap kebohongan. Yang dilakukan kaum postmodernis pada intinya adalah pembongkaran cara pandang dan asumsi-asumsi dasar dibalik segala cita-cita modern yang dilihatnya sebagai akar permasalahan timbulnya berbagai bencana.

d.     Perbedaan Modern Dengan Postmodern

Pergeseran modernisme ke postmodernisme memang bukanlah sebuah revolusi yang tiba-tiba, tetapi lebih merupakan sebuah proses yang berlangsung dalam rentang waktu tertentu.

e . Pemikiran Posmodernism

Merupakan suatu ide baru yang menolak atau pun yang termasuk dari pengembangan suatu ide yang telah ada tentang teori pemikiran masa sebelumnya yaitu paham modernisme yang mencoba untuk memberikan kritikan-kritikan terhadap modernisme yang dianggap telah gagal dan bertanggung jawab terhadap kehancuran martabat manusia.

f.Pemikiran Postkolonial

Berorientasi pada terwujudnya tata hubungan dunia yang baru di masa depan. Teori yang berasumsikan dan sekaligus mengeksplor perbedaan fundamental antara negara penjajah dan negara terjajah dalam menyikapi arah perkembangan kebudayaannya.

SEJRAH EKONOMI

SEJARAH EKONOMI

MATA KULIAH-ILMU SEJARAH

Pengertian Sejarah Ekonomi

Sejarah ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang cara fenomena ekonomi berubah dilihat dari sudut pandang historisnya. Analisis dalam sejarah ekonomi dilakukan menggunakan gabungan metode sejarah, metode statistik dan teori ekonomi terapan sampai peristiwa bersejarah. Topik ini meliputi sejarah bisnis, sejarah keuangan dan mencakup bidang sejarah sosial seperti sejarah kependudukan dan sejarah buruh. Sejarah ekonomi kuantitatif (ekonometrik) juga disebut sebagai kliometrik. Hal yang dikaji dalam sejarah ini antara lain produksi, distribusi dan konsumsi dan pelaku dari hal tersebut adalah masyarakat. Sejarah sosial dan ekonomi sangat erat hubungannya. 

Contoh Kajian Sejarah Ekonomi

a. Kopra Makassar: perebutan pusat dan daerah: kajian sejarah ekonomi politik regional di Indonesia

b. Produksi dan pemasaran beras di Sulawesi Selatan 1900-1943

c. Perusahaan tambang batu bara pulu laut Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan tahun 1903-1930 (Kajian Sejarah Sosial Ekonomi)

d. Kontribusi Pengrajin Industri Kecil Tahu Dalam Peningkatan Kehidupan Sosial Ekonomi Keluarga (Studi Kasus Masyarakat Desa Madegondo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo)

e. Pendi Putro KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PENGRAJIN MAINAN (Studi Kasus Tentang Relasi Sosial dan Strategi Bertahan Masyarakat Pengrajin Mainan di Desa Ngaglik, Kecamatan Bulukerto

Jumat, 10 Juni 2022

SEJARAH SOSIAL

Sejarah Sosial
Mata Kuliah-Ilmu Sejarah
Pengertian Sejarah Sosial
Sejarah sosial merupakan sejarah tanpa politik”. Namun, definisi ini sering dikutip secara tidak benar, sebab yang sebenarnya dituliskan oleh Trevelyan adalah : “ sejarah sosial bisa didefinisikan secara negatif sebagai sejarah dari sekelompok masyarakat tanpa mengikutsertakan politiknya”. Dia mengakui bahwa definisi itu masih belum cukup, tetapi dia mengatakan bahwa ini karena, pada saat itu, para sejarawan sedang mengembangkan studi politik tanpa menunjukkan seluruh tokoh masyarakat; akibatnya, ada dorongan besar untuk menyeimbangkan.
Walaupun sejarah sosial sudah merupakan bahasan baru dalam penulisan sejarah sebelum perang dunia ke II, tetapi sebagai sebuah gerakan yang penting baru mendapatkan sebuah tempat di tahun 1950-an. Di Perancis aliran penulisan sejarah dipelopori Febre dan Bloch yang menjadi sebuah metode atau paradigma bagi penulis sejarah sosial yang semakin kuat kedudukannya.Muncul juga di dalam Negara Amerika dan Inggris sebagai inspirasi dalam penulisan sejarah di luar daratan eropa.Terna lain yang dapat digarap oleh sejarah sosial ialah tentang peristiwaperistiwa sejarah. Tulisan-tulisan di indonesia tentang pemberontakan petani adalah salah satu contohnya. Demikian pula tulisan Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888,barangkali merupakan suatu sejarah sosial pertama yang ditulis dalam historiografi Indonesia.Dalam penulisan tersebut pada umumnya “sejarah baru”, telah digunakan pendekatan yangmemanfaatkan teori dan konsep ilmu sosial.  
Akhirnya, sejarah sosial dapat mengambil fakta sosial sebagai bahan kajian, tema seperti kemiskinan, perbanditan, kekerasan, kriminalitas dapat menjadi sebuah sejarah, model penulisan sejarah ada dua yaitu sinkronis dan diakronis, dalam sebuah konsep sinkronis masyarakat digambarkan sebagai sebuah sistem yang terdiri atas struktur dan bagiannya, misalnya pendekatan fungsional dan struktural dalam ilmu sosial pada model sinkronis melihat keadaan masyarakat daalam keadan waktu nol, model sinkronis kebanyakan digunakan oleh ilmu sosial seperti sosiolog, ekonomi, antropologi dan politik.
1. Model Evolusi  
Model pertama ini disebut model evolusi untuk menunjukkan jenis penulisan yang menggambarkan perkembangan sebuah masyarakat yang kompleks.Model ini hanya diterapkan pada bahan kajian yang memang mencoba mengkaji masyarakat dari permulaan berdirinya.
2. Model Lingkaran Sentral 
Model Lingkaran Sentral tidak menulis mengenai kota atau masyarakat dari awal, tetapi dari titik yang sudah menjadi.11 Setiap penulisan yang bertolak dari titik sejarah di tengah tengah demikian biasanya selalu mulai dengan lukisan sinkronis tentang masyarakat itu, 4baru kemudiansecara diakronis ditunjukkan perubahan - perubahan. Contoh Model Lingkaran Sentral ini diambil dari telaah tulisan LeRoy Ladurie, The Peasants Of Languedoc yang melukiskan masyarakat petani di Languedoc, Prancis, Pada abad ke -16 dan 17. 
3. Model Interval 
 Model ini merupakan kumpulan dari Iukisan sinkronis yang diurutkan dalam kronologi sehingga nampak perkembangannya, sekalipun tidak nampak benar hubungan  sebabakibat.Model ini terpikirkan- misalnya ketika kita mendapatkan keterangan dari suatu zaman pada periode tertentu mengenai suatu masyarakat tertentu. 
4. Model Tingkat Perkembangan 
Model ini adalah penerangan dari teori perkembangan masyarakat yang diangkat dari sosiologi. Model-model yang banyak dipakai dalam menerangkan perkembangan sejarah ialah Marx atau Rostow. Di sini akan dikemukakan tulisan Neil J. Smelser tentang Revolusi lndustri sebagai contoh, yaitu Sociological History : The Industrial Revolution and the British WorkingClass Family.  Tulisannya yang dengan tegas dinyatakan sebagai sejarah sosiologis itu, sosiolog Smelse memakai model differensiasi struktural untuk melukiskan tahap-tahap perkembangan Revolusi Industri dan masyarakat lnggris, deskriptif dan bercorak unik. Smelser dengan sengaja mendekat Revolusi lndustri eksplisit yang diambil dari pemikiran sosiologis. Modifikasi diperlukan mengingat misalnya adanya struktur sosial ekonomi yang dualistis, atau plural, dalam masyarakat Indonesia, sehingga industrialisasi yang menimpa satu sektor sosial ekonomi dapat mempunyai implikasi lain bagi sektor yang Iain. 
5. Model Jangka Panjang - Menengah – Pendek 
Model ini diambil dari  Femand Braudel menangani sejarah sosial. Bukunya yang merupakan karya utama, yaitu The Medite"anean and the Medite"anean World in the Age of Philip II yang terbit dalam dua jilid tebal dan merupakan hasil kerja selama 20 tahun, Braudel membagi sejarah dalam tiga macam keberlangsungan.14 Pertama, ialah sejarah jangka panjang yang perubahannya sangat lamban, merupakan perulangan yang konstan dan perkembangan waktu yang tak dapat dilihat. Sejarah ini terutama mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya, atau apa yang disebutnya sebagai geografical time . Kedua, ialah perkembangan yang lamban, tetapi dapat dirasakan ritmenya. Di sinilah letak sejarah dari kelompok sosial atau pengelompokan sosial,atau sejarah sosial itu sendiri. Braudel menyebutnya sebagai sejarah jangka menengah yang menempati sebuah "Social time". Ketiga, ialah sejarahjangka pendek, yaitu sejarah dari kejadiankejadian, l'historie evenementielle. Sejarah Indonesia banyak sekali kemungkinan untuk menggarap sejarah sosial dengan model ini. Sebagai contoh misalnya disertasi Soetjipto Tjiptoatmodjo (1983) mengenai Selat Madura nampak sedikit banyak usaha ke arah penulisan sejarah yang demikian. 
6. Model Sistematis  
Model ini terutama sangat sesuai untuk menelusuri sejarah sosial dalam arti perubahansocial. Model ini diambil dari membaca buku Thomas C. Cochran, Social Change in America,yang mencoba membuat pendekatan yang sistematis terhadap perubahan sosial di Amerika dalam abad ke-20.  
C. Tema Historiografi Sejarah Sosial 
Sebelum sejarah sosial dikenal oleh masyarakat seperti yang dijelaskan bahwa sejarah politik lebih dahulu dikenal, dan sejak lama pula pandangan sejarah hanya bertumpu pada politik( sejarah yang perhatianya pada masalah negara dan berhubungan dengan petinggi negara ).  Ini juga terjadi di Indonesia bisa dicontohkan dengan di jawa dengan penulisan babad oleh pujangga keraton. Dimana mereka menulis sejarah mengagungkan kebesaran dan kemashuran raja,dibanding menceritakan rakyatnya. Pada akhir abad ke 18 munculah perthatian terhadap gejala ekonomi dan tumbuhlah sejarah ekonomi pada abad ke-19, timbulnya spesialisasi ini disatu pihak telah menyebabkan sejarahwan berkenalan dengan bidang yang semula ada di luar wawasan sejarahwan, dan menambah lingkup bidang sejarah yang luas diluar sejarah politik konvensional. 
a. Aspek sejarah sosial dalam historiografi 
Aspek sejarah sosial dalam historiografi tidak berbeda dengan sejarah ekonomi, sejarah sosial dalam perkembangan menjadi lawan bagi sejarah politik yang menitik beratkan pada kaum elit. Keterbatasan sejarah politik dalam menjelaskan proses akan dilengkapi dengan sejarah sosial yang mempunyai tema berbeda yang akan mengungkap sisi lain dari suatu kehidupan masyarakat yang akan memperlengkap dalam kajian ilmu sejarah yang akan menjadikan sejarah lebih peka terhadap masalah masalah sosial dalam penelitiannya. Aspek sejarah sosial historiografi dalam arti yang luas sering hubungan dengan sejarah lainnya sehingga sulit dibedakan secara tegas, beberapa yang bisa dimaksukan dalam kategori ini antara lain sejarah kota, sejarah pedessaan, sejarah kelembagaan, sejarah kelompok sosial. Secara sempit sering perhatian sejarah sosial lebih dipusatkan dalam membahas permasalahan sosial mislanya kemiskinan, kelaparan, kebodohan, keterbelakangan dan kemerosotan moral. Masalah-masalah yang berhubungan dengan kepincangan dalam pengadaan pangan, sandang, perumahan,kesehatan dan pendidikan (basic need) pada dasarnya merupakan sumber pertama bagi timbulnya problem sosial. 
Tiga teori yang memengaruhi historiografi sejarah sosial meliputi: 
1. Teori evolusi dengan tokoh utamanya Herbert Spencer.  
Menurut teori evolusi manusia berkembang secara evolusioner dari keadaan homogen yang tidak koheren menjadi keadaan heterogen yang koheren. 
2. Teori struktural.  
Teori struktural menyatakan bahwa masyarakat dilihat dari totalitas yang berhubungan satu sama lain dan memiliki suatu dinamika dalam dirinya. Sejarah struktur adalah sejarah yang umumnya mengkaji struktur sosial dan perubahan sosial. 
3. Teori marxisme.  
Teori Marx mengenai historis materialisme menekankan kepada determinisme ekonomi. Proses sejarah berlangsung dialektis dan ditentukan oleh satusatunya penggerak yaitu kepentinan ekonomi. 
b.  Gerakan sosial sebagai tema sejarah sosial 
Gerakan ini muncul tahun 1950-an dengan penggagas pertamanya ialah Eric Hosbawn dalam bukunya Primitive Rebels (pemberontak primitiv) beberapa gerakan ini digambarkan sebagai aktif, berinisiatif mengejar sebuah tujuan spesial, seperti kemedekaan nasional, penghapusan pebudakan, atau suara dari kewanitaan (emansipasi). Sejarah gerakan ini bisa dicontohkan dalam kasus perang petani jerman tahun 1525, sebagai reaksi naiknya tuntutan yang dibuat para tuan tanah.  
Untuk mempelajari ini akan memunculkan suatu pertanyaan yang lazim muncul dalam mempelajari gerakan sosial yaitu : 
1. Siapa yang bergerak ? ( meliputi siapa yang memimpin gerakan dan anggota yang mengikuti )  
2. Hal apa yang diadopsi untuk mencapai tujuan bersama ? ( meliputi bagaimana cara seorang atau kelompok dalam untuk mencapai tujuan ) 
3. Apa yang membuat gerakan lebih sukses dari pada gerakan lainya ? ( konsep keberhasilan ). 
Selain itu masih banyak tema dalam sejarah sosial antara lain : 
• Masyarakat Pedesaan 
Merupakan tulisan sejarah yang menunjukan suatu permasalahan suatu kawasan pedesaan baik berupa perubahan atau perkembangan.Contoh: 1.  Sejarah Sosial Pedesaan Onderafdelling Aceh Tengah (1904-1942) 
2. Sejarah Sosial Pedesaan Karesidenan Semarang (1830-1900) Oleh Djoko Suryo 
3. Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial Pedesaan Surakarta. Oleh Suhartono W.P 
• Perbanditan, dan Kriminalitas 
Tema sejarah sosial yang di dalamnya mengulas tentang kejadian tindak kejahatan atau Pencurian.Bandit sendiri merupakan lawan elit yang bergerak di bawah tanah sehingga menjadi ancaman bagi kaum elit yang sedang berkuasa.Contoh:  1. Perbanditan Pedesaan di Jawa (1850-1942) Oleh Suhartono W.P 
2. Bandit dan Pejuang di Aceh Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) 
• Gaya Hidup 
Tema sejarah sosial yang menelaah mengenai proses gaya hidup yang bersifa sosial yang berada di suatu daerah.Contoh: 1. Kehidupan Keraton Surakarta (1830-1930) 
• Arsitektur 
Tema sejarah sosial yang terfokus pada suatu ranah kebudayaan dalam bentuk aksitektur atau bangunan baik berupa perubahan atau perkembangan.
Kedudukan sejarah sosial dalam historiografi Indonesia 
Penggarapan sejarah sosial merupakan langkah untuk menuju Dekolonoisasi Historiografi Indonesia, karena historiografi kolonial sudah diangkap tidak cocok lagi dengan sejarah nasional bangsa indonesia sendiri.  Secara segi dan bentuk dapat dipenuhi dengan sejarah sosial, dengan melalui penggarapan ini kekurangaan atau kepincangaan yang terdapat pada di dalam historiografi kolonial dapat diatasi dengan tepat tidak saja melalui perubahan aspek dinamis bangsa Indonesia dari peran pasif menjadi ke pelaku utama dalam sejarahnya.Pengungkapan berbagai segi kehidupan masyaarakat yang bersifat sosial dari berbagai kelompok akan tambah memperjelas gambaran sejarah pengungkapan berbagai segi kehidupan masyaarakat yang bersifat sosial dari berbagai kelompok akan tambah memperjelas gembaran sejarah masyarakat Indonesia dari masala lampau yang terlah terabaikan dalam penulisan historiografi kolonial, penelitian sejarah dalam lingkungan masyarakat kota maupun masyarakat desa ikut menyumbangkan perkembangan historiografi Indonesia modern serta memperluas cakrawala sejarah nasional Indonesia. 
D. Kebangkitan Sejarah Sosial 
Cukup ironis bahwa para Antropolog dan Sosiolog kehilangan minat terhadap masa lampau (sejarah ) justru ketika sejarahwan mulai menghasilkan suatu karya yang bersifat suatu jawaban dari topik permasalahan akan “ sejarah alamiah masyarakat ”. pada abad akhir ke-19, sejumlah tokoh sejarah professional kecewa dengan sejarah aliran Neo Ranke ( sejarah politik ). Yang di pimpin oleh Karl Lamprecth yang merupakan salah satu pengkritik yang paling vokal, ia mengecam lembaga sejarah Jerman yang banyak mengembangkan atau menitik beratkan pada sejarah politik yang di dalamnya hanya berisi tokoh-tokoh yang terkenal.  Sekitar tahun 1900 cara pikir kebanyakan sejarahwan Jerman masih belum meninggalkan paradigma atau metode dari Ranke, dimana ketika max weber mengadakan studi tentang Protestanisme dan Kapitlisme ia berhasil meramu karya-karya para teman kerja yang tertarik pada masalah tersebut.
. Contoh Kajian Sejarah Sosial 
1.      Masyarakat Pedesaan 
- Sejarah Sosial Pedesaan Onderafdelling Aceh Tengah (1904-1942) 
- Sejarah Sosial Pedesaan Karesidenan Semarang (1830-1900) Oleh Djoko Suryo 
- Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial Pedesaan Surakarta. Oleh Suhartono W.P 
2.      Patologi, Perbanditan, dan Kriminalitas 
- Perbanditan Pedesaan di Jawa (1850-1942) Oleh Suhartono W.P 
- Bandit dan Pejuang di Aceh Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) 
3.      Gerakan Sosial 
-          Pemberontakan Petani Banten 1888, Oleh Sartono Kartodirdjo 
4.      Protes Gerakan Agama 
-          Perlawanan Pangeran Diponogoro 
5.      Gaya Hidup 
-          Kehidupan Keraton Surakarta (1830-1930) 
6.      Arsitektur 
-          Kebudayaan Indis di Aceh 
7.      Seni 
-         Seni dalam Kehidupan Masyarakat Gayo dan Perubahannya

Jumat, 03 Juni 2022

SEJARAH WANITA

Sejarah Wanita

Mata Kuliah-Ilmu Sejarah

Pengertian Wanita 

Peran kaum wanita tidak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa Indonesia. Kaum wanita memiliki peran yang terbilang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejarah gerakan wanita tidak bisa dilepaskan dari sejarah kemerdekaan Republik. Merekalah perintis dari perjuangan hak-hak kemerdekaan yang menyangkup masalah wanita. Perlu disadari, tanpa adanya mereka akan sangat mungkin hak-hak kaum wanita sekarang tidak akan tercapai.
Kata perempuan dalam kamus bahasa Indonesia dikenal dengan wanita yaitu lawan dari laki-laki. Secara etimologi, wanita didefinisikan sebagai manusia, perempuan yang dewasa.
Pemakaian istilah wanita diambil dari bahasa Sansakerta yang artinya “Yang diinginkan kaum laki-laki”. Istilah wanita berasal dari kata wani ( berani ) dan ditata ( diatur ) . Yang memiliki arti , seorang wanita adalah sosok yang berani dan mudah untuk ditata atau diatur . Dalam kehidupan praktis masyarakat jawa , wanita adalah sosok yang selalu mengusahakan keadaan untuk dapat tertata dengan baik sehingga untuk itu pula dia harus menjadi sosok yang berani dan mudah untuk ditata. Selain itu , adapula yang mengartikan wanita yang berasal dari kata wani ( berani ) dan tapa (menderita) . Yang memiliki arti wanita adalah sosok yang berani menderita bahkan untuk orang lain . Ada istilah lain yang sering kita dengar selain kata wanita, yaitu perempuan . Sedangkan akar kata “ perempuan ” adalah empu yang memiliki arti guru.
Kedudukan Wanita Dalam Perjalanan Sejarah

Kemerdekaan Republik Indonesia juga tidak bisa terlepaskan dari gerakan kaum wanita. Merekalah yang merintis perjuangan hak – hak kemerdekaan yang menyangkup semua masalah wanita. Perlu disadari tanpa adanya jasa dari mereka akan sangat mungkin hak – hak kaum wanita sekarang tidak akan tercapai. 
Sejarah pergerakan wanita di Indonesia ditandai dengan adanya kebijakan politik etis oleh Belanda di Hindia Belanda. Kebijakan itu membuat pendidikan Eropa masuk dan mulai memperkenalkan pendidikan modern bagi wanita. Periode pertama, yaitu periode melek huruf ditandai dengan masuknya pendidikan modern dan mulainya wanita – wanita Indonesia berliterasi dengan berbagai sumber pustaka. 
Sekolah wanita pada saat itu kebanyakan berada disekitar wilayah perkebunan – perkebunan Belanda , dengan tujuan supaya wanita yang sudah lulus bisa diarahkan untuk bekerja di perkebunan Belanda. Harapan pemerintah kolonial dengan adanya sekolah adalah agar bisa mencetak kaum wanita bumiputra yang berpandangan bahwa Belanda untuk melanjutkan kolonialismenya . Tapi ternyata salah, wanita - wanita yang sudah diberi pendidikan ternyata menjadi lebih kritis dan mulai menyadari identitasnya sebagai kaum yang terjajah. 
Setelah periode melek huruf , periode kedua adalah periode melek nasionalisme. Wanita mulai sadar akan pentingnya suatu pergerakan wanita, ditandai dengan adanya kongres perempuan 1 pertama di Yogyakarta pada 22 Desember 1928. Kongres pertama ini membahas tentang konsolidasi perempuan dalam rangka memerdekakan Indonesia dan berhasil membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia ( PPI ) yang terdiri dari kumpulan berbagai organisasi wanita . 
Setelah kemerdekaan , pergerakan wanita tidak lagi berbentuk fisik , wanita kini bergerak untuk memperjuangkan hak mereka salah satunya adalah hak pilih . Dimana pada tahun 1955 akhirnya wanita di Indonesia dapat memilih dalam Pemilihan Umum dan bahkan menjadi anggota parlemen . Muncul pula UU No. 80 tahun 1958 mengenai kesamaan gaji antara wanita dan pria untuk pekerjaan yang sama . Namun , di tahun – tahun ini permasalahan bagi wanita adalah poligami . Mereka ingin Indonesia melarang poligami sepenuhnya .
Setelah naiknya Soeharto menjadi presiden , ada beberapa fenomena positif dan negative bagi kaum perempuan, diantaranya : 
1.  Dampak Positif : 
a. Pertama , dikeluarkannya UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang secara tidak langsung membatasi pegawai negeri laki – laki untuk melakukan poligami . 
b. Kedua , dibentuknya Kementrian Muda Urusan Peranan Wanita pada Kabinet Pembangunan pada tahun 1974 ( yang akhirnya berganti nama menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ) , kementrian ini menjadi symbol legitimasi yang diberikan Negara kepada perempuan Indonesia untuk mengambil peran ranah dipublik . Melalui kementrian ini pula banyak kebijakan kebijakan publik yang mendukung pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender . 
2. Dampak Negatif :
a. Pertama , beberapa kebijakan public yang mereproduksi superioritas laki – laki atas perempuan, yang paling menonjol terlihat dari berdirinya organisasi –organisasi istri , contohnya : Dharma Wanita , Persit Kartika , Candra Kirana , dan lain sebagainya . Posisi wanita dalam struktur hanya didasarkan atas posisi suaminya , bukan karena kemampuan mereka sendiri .
b. Kooptasi organisasi masyarakat yang akhirnya ikut membatasi ruang gerak organisasi perempuan karena tidak boleh berseberangan dengan keinginan penguasa dan tidak mampu menentukan gari perjuangannya secara bebas .
Sejarah Perjuangan Gender Wanita 
Isu gender memang selalu menarik perhatian banyak orang. Tidak hanya Indonesia yang memiliki masalah diskriminasi gender, namun banyak dari negara-negara di dunia juga mengalaminya. Bahkan negara sekelas Inggris dan Jerman pun mengalami diskriminasi gender sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Pergerakan feminisme di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak masa kuna. Hal ini dibuktikan dengan munculnya tokoh kejayaan nusantara seperti Ratu Sima, Sanggramavijaya, Dharma Prasada Tungga Dewi, Ken Dedes, Kusumawardhani, dan nama-nama lainnya.
Kehidupan perempuan selalu diliputi tradisi-tradisi yang masih sangat terbelakang seperti halnya mengurus dan mengatur rumah tangga,serta mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Hak-hak hidupnya sangat dibatasi, bahkan perempuan sering diibaratkan sebagai orang yang hanya mengetahui kehidupan dapur, sumur, dan kasur. Perbedaan masa modern kolonial dengan masa kuna terletak pada perkembangan teknologi yang semakin pesat, sehingga pendidikan menjadi peranan penting dalam kehidupan. Hak perempuan tentu berbeda dengan laki-laki yang dalam kehidupannya tidak pernah dibatasi baik kebebasan di luar rumah, bersekolah menduduki jabatan  dalam masyarakat, serta semua kebebasan yang tidak dimiliki oleh kaum perempuan. Kondisi inilah yang kemudian melatarbelakangi awal perjuangan feminisme di Indonesia masa modern.Pionir perjuangan kesetaraan gender di awal masa modern tidak terlepas dari kiprah R.A. Kartini. Kartini merupakan anak kedua dari Bupati Jepara yang kemudian pindah ke Rembang karena pernikahannya dengan Raden Joyodiningrat. Kondisi Kartini yang pernah mengenyam pendidikan pada saat kecil menjadikan Kartini memiliki cita-cita perjuangan jauh ke depan khususnya dalam menyetarakan hak-hak perempuan. Beberapa ide gagasan Kartini yakni :
a) pendidikan bagi perempuan adalah syarat paling penting dalam kehidupan
b) perempuan harus diberi kesempatan untuk menentukan pekerjaan yang cocok untuk mereka
c) penghapusan poligami karena merendahkan martabat perempuan
d) gagasan yang sangat berpotensi meningkatkan kesejahteraan perempuan tentu tidak dapat terpenuhi dengan mudah.
. Sejarah Pergerakan wanita Indonesia 
1. Gerakan Perempuan Pada Masa Kolonial 
Gerakan perempuan di Indonesia, bisa kita pelajari mulai dari Masa kolonial (sebelum 1945). Pada masa itu, muncul tokoh-tokoh perempuan di daerah-daerah yang aktif melawan penjajah untuk meraih kemerdekaan. Seperti di aceh ada Cut
Nya Dien (komandan perang aceh) dilanjutkan perjuangan Cut Mutia. Ratu Sima
menjadi pemimpim perempuan yang jujur di Jateng, selain itu ada juga RA Kartini yang kita kenal sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Pada masa colonial gerakan wanita semakin terasa di tahun 1928 dengan diselenggarakannya kongres Perempuan 1 pada 22-25 Desember di Yogyakarta dengan tujuan memperjuangkan hak-hak perempuan terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan. 
2. Gerakan Wanita Pada Masa Pasca Kolonial
Pada masa pasca kolonial 1945-1966, gerakan perempuan semakin mewarnai kemerdekaan bangsa Indonesia. Kala itu muncul PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang terbentuk tanggal 17 Desember 1945. Sewaktu berlangsung perang, kegiatan PERWARI merupakan kegiatan “homefront”, mengurus dapur umum dan membantu PMI. Setelah perang kemerdekaan reda, PERWARI menggiatkan diri dalam mengisi kemerdekaan dengan memusatkan perhatiannya dalam bidang Pendidikan. Juga ada GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) yang aktif di tahun 1950-1960-an. Gerwani merupakan organisasi independen yang memberikan perhatian pada reformasi sistem hukum di Indonesia untuk membuat wanita dan pria sama di mata hukum termasuk hukum perkawinan, hak-hak buruh, dan nasionalisme Indonesia. Pada skala lokal, Gerwani juga memberikan dukungan individu untuk perempuan yang telah disalah gunakan atau ditinggalkan oleh suami mereka 
3. Gerakan Wanita Pada Masa Orde Baru 
Pada masa orde baru (1967-1998), Gerakan perempuan seolah-olah mati bahkan dimatikan dengan munculnya organisasi-organisasi bentukan pemerintah, seperti Dharma Wanita yang isinya istri-istri PNS, kemudian ada PKK yang isinya istriistri pejabat. Organisasi-organisasi tersebut memainkan perannya bahwa kewajiban perempuan itu adalah mengerjakan urusan-urusan domestik dalam istilah yang saat ini populer adalah “macak, manak, masak”, “Manut ing Pandum” dan “Konco Wingking” Jargon-jargon tersebut ternyata sangat mudah dan cepat sekali diterima perempuan-perempuan pada masa itu, dimana peran perempuan dalam publik sangat minim bahkan perempuan cenderung dijadikan alat politik oleh pengusasa untuk melanggengkan kekuasaanya. Dan itu berlangsung selama 32 tahun. Di balik peristiwa  tersebut ternyata banyak perempuan-perempuan yang kritis dan sadar akan hak-haknya. Menjelang awal millennium baru, muncul banyak perempuan Indonesia yang berani mengekspresikan idenya dengan tulisan atau buku. Ayu Utami adalah salah satu yang kemudian muncul lewat bukunya tentang seksualitas.
Kemudian ada Saparinah Sadli, Marsinah dan yang lainnya.
4. Gerakan Wanita Reformasi – Sekarang 
Gerakan perempuan di Indonesia kemudian berhasil mendorong pemerintah Indonesia untuk meratifikasi CEDAW lewat UU no. 7 tahun 1984 yang memiliki konsekuensi mengikat bagi negara untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi perempuan warganya.CEDAW yaitu Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women yang merupakan konvensi internasional yang mengkhususkan diri pada isu hak asasi perempuan khususnya penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan Periode ini juga diwarnai lahirnya Beijing Platform (1995) dalam Konferensi Dunia Tentang Perempuan ke- 4. Dan awal dimulainya reformasi sampai sekarang, banyak organisasi perempuan yang muncul sebagai perwujudan gerakan perempuan dalam berserikat seperti Komnas perempuan, Jurnal Perempuan, JARPUK ( jaringan perempuan usaha kecil ), Fahmina (majalah wanita) , PEKKA (perEmpuan kepala keluarga), FAMM (forum aktivis perempuan muda) dsb. Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah bagi gerakan perempuan di Indonesia untuk memperjuangkan hak-haknya khususnya hak-hak kaum perempuan yang termarginalkan. 

E. Contoh kajian sejarah wanita 
1. R.A Kartini 
R.A. Kartini adalah salah satu tokoh yang berbeda dari beberapa tokoh lainnya, karena dengan keberhasilan dan kegigihannya atau semangat perjuangan emansipasinya dijadikan sebagai bentuk kepahlawanan  . R.A. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya ialah Raden Mas Adipati Sosroningrat, seorang Bupati Jepara. Raden Ajeng Kartini berdiri tidak hanya sebagai tokoh, tetapi juga tokoh yang monumental. Keberaniannya melampaui perempuan pada masanya, maka tak heran jika ia dinilai sebagai pelopor yang menegakkan tonggak perjuangan perempuan. Perjuangan yang disuarakan oleh Kartini terhimpun rapi dalam surat-suratnya yang kemudian dibukukan: Habis Gelap Terbitlah Terang (1963). Isi surat-suratnya seputar perlawanan dan kritik sosial atas kesewenang-wenangan yang dilakukan golongan laki-laki pada saat itu.
Kartini memprotes keras kawin paksa (pernikahan yang dipaksakan kepada seorang perempuan, padahal belum pernah mengenal lelaki yang hendak menikahinya, bahkan belum pernah melihat batang hidungnya sama sekali), poligami (pada saat itu sudah menjadi hal yang biasa ketika seorang laki-laki memiliki lebih dari satu istri, dan semua istri tersebut tinggal dalam rumah yang sama), perceraian dengan tanpa alasan yang jelas, tradisi seorang perempuan ketika sudah dewasa harus dipingit (diam di rumah) dan baru boleh keluar rumah setelah bersuami, dan kurangnya akses pendidikan terhadap perempuan. Pendidikan yang memiliki fungsi memerdekakan dan memartabatkan menjadi satu-satunya alat yang harus dikuasai perempuan untuk melawan penindasan yang selama ini ditujukan kepadanya. Dengan belajar, kaum perempuan akan terdidik, tercerahkan, dan tercerdaskan. Menjadi manusia seutuhnya yang bebas memilih pilihan hidup berdasarkan pertimbangan akal budi. Maka dari itu, atas keresahan dan segenap permasalahan yang menimpa kaum Perempuan, Kartini fokus pada pendidikan sebagai solusi dari ketidakadilan.Kartini menaruh perhatian yang luar biasa pada pendidikan perempuan. Hal tersebut menjadi landasan paling mendasar pergerakan perempuan Indonesia dari dulu hingga kini. Kartini merumuskan lima konsep pendidikan perempuan :
1. Perempuan merupakan tempat pendidikan pertama
Secara kodrati memiliki rahim yang menjadi sumber kelahiran seorang insan, maka manusia pertama yang memiliki tanggung jawab dalam mendidik adalah perempuan.
2. Perempuan merupakan pembawa peradaban
Dalam salah satu suratnya, Kartini menulis: “Dari semenjak dahulu kemajuan perempuan itu menjadi pasal yang paling penting dalam usaha memajukan bangsa. Kecerdasan pikiran penduduk Bumiputra tiada akan maju dengan pesatnya, bila perempuan itu ketinggalan dalam usaha itu.
Perempuan jadi pembawa peradaban!”.
3. Pendidikan itu mendidik budi dan jiwa.
Dengan kata lain, pendidikan tidak hanya bertugas memberikan pencerahan bagi intelektualitas, tetapi juga satu paket lengkap dengan emosionalitas.
4. Pendidikan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan untuk kemajuan bangsa. Dalam membangun kesatuan kehidupan berbangsa, maka hal paling fundamental adalah menata peradaban dengan pendidikan. Hal tersebut akan terwujud apabila pendidikan antara kaum laki-laki dan perempuan setara, agar tujuan yang hendak dicapai akan lebih mudah digapai karena terdapat kerja sama dan harmonisasi.
5. Pendidikan untuk cinta tanah air.
Dalam satu suratnya, Kartini menulis: Kami sekali-kali tiada hendak menjadikan murid-murid kami jadi setengah orang Eropa, atau orang Jawa kebelanda-belandaan. Maksud kami dengan mendidik bebas, ialah terutama sekali akan menjadikan orang Jawa itu, orang Jawa yang sejati, orang Jawa yang berjiwa karena cinta dan gembira akan tanah air dan bangsanya, yang senang dan gembira melihat kebagusan, bangsa dan tanah airnya dan kesukarannya.

2. Dewi sartika 
Hal ini didorong oleh keadaan keluarganya sendiri. Dewi Sartika menyaksikan penderitaan ibunya sendiri akibat ditinggalkan oleh ayahandanya, karena harus  menjalani hukuan buang di Ternate. Sejak 1902, Dewi Sartika dihadapan anggota keluarganya yang perempuan, merenda, memasak, menjahit, membaca, menulis menjadi materi pelajaran saat itu Martanegara adalah seorang Bupati yang berfikir majur (progresif) zamannya. Dewi Sartika berkonsultasi dengan bupati Martinegara. Bupati Martanegara tidak menyetujui niat Dewi Sartika untuk membuka sekolah untuk anak-anak perempuan, karena menurut pendapatnya akan mendapat tantangan yang keras dari masyarakat. Sekolah untuk perempuan yang diusahakan seorang putri priyayi jelas bertentangan dengan adat dan bangsawanan. kan tetapi penolakan ini tidak mengecilkan hati Dewi Sartika, berulang kali permohonan itu diajukan. akhirnya Bupati menyetujuinya dan pada tanggal 16 Januari 1904 didirikanlah "sekolah istri" (sekolah istri atau sekolah gadis), untuk jenisnya yang pertama kali di Indonesia. tempatnya di Paseban Kabupaten Bandung sebelah barat terdiri dari 2 kelas dengan dua puluh orang murid, dengan tiga orang pengajar yaitu Dewi Sartika, Ibu Purma dan Ibu Uwit.
Pada tahun 1905 Dewi Sartika melakukan penambahan kelas sehingga pindah ke jalan Ciguriang, Kebon Cao. Di tempat yang sekarang masih dipergunakan sebagai tempat belajar sekolah-sekolah yayasan Dewi Sartika. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, sera bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemapuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910 menggunakan harta benda, untuk memperbaiki sekolahnya lagi, sehingga bisa lebih memenuhi syarat kelengkapan sekolah formal. Penyempurnaan dalam rencana pelajaran dilakukan. Pedomannya adalah pola pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dasar pemerintah waktu itu, dengan menekankan pada pelajaran-pelajaran keterampilan wanita seperti menjahit, menambal, menyulam, merenda, memasak, menyajikan makanan, belajar agama.  Pada tahun 1911 Dewi Sartika menghadiri undangan Sarekat Islam yang sedang mengadakan pertemuan, dan Dewi Sartika memberikan ceramah tentang pendidikan wanita. Juga pada tahun 1914, atas sponsor Sarekat Islam, di Bandung diadakan pertemuan Perkumpulan "Madjoe Kemoeljaan" untuk memberantas pelacuran. Mengenai lapangan kerja bagi wanita dan perbedaan upah buruh wanita dengan pria, serta kesejahteraan buruh wanita, Dewi Sartika mempunyai pandangan yang jauh mendahului pandangan pelopor wanita angkatannya. Menurut pendapat Dewi Sartika pendidikan sekolah saja, bagi wanita tidak cukup. Lebih perlu lagi perluasan pendidikan kejuruan, yang akan memberikan kecakapan dan keterampilan khusus bagi wanita, sehingga ia mampu bekerja sesuai dengan kecakapannya. bidang pekerjaan sepeti bidan, penata, tukang batik, pemegang bako, penanam bunga, intinya pekerjaan yang selama ini dianggap oleh masyarakat kita tidak pantas untuk wanita dan hanya diperuntukkan bagi kaum pria, akan sangat menggembirakan apabila dibuka pendidikannya bagi wanita.

PEMERINTAHAN ORDE BARU

  Latar Belakang Lahirnya Orde Baru Mata kuliah - Sejarah Indonesia       Setelah Gerakan 30 September dapat ditumpas, berdasarkan berbagai ...