Jumat, 27 Mei 2022

SEJARAH PENDIDIKAN INDONESIA

SEJARAH PENDIDIKAN INDONESIA
Mata Kuliah-Ilmu Sejarah

A. Pendidikan Di Nusantara Pada Masa Pra Kolonialisme
1. Pendidikan di Indonesia pada Masa Hindu-Buddha 
Pada umunya Indonesia menerima agama, pengetahuan dan kebudayaan dari Negara 
tetangga seperti India. Indonesia juga memperkaya dan memberi warna dan corak keIndonesiaan pada agama, pengetahuan sehingga menjadi spesifik Indonesia. Boleh dikatakan 
sejak dahulu pendidikan di Indonesia berdasarkan agama.1
Terdapat beberapa ciri pendidikan pada periode kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di 
Indonesia, antara lain:
a. Bersifat informal karena proses belajar mengajar tidak melalui institusi yang formal. 
b. Berpusat pada religi, yaitu ajaran agama Hindu dan Buddha. 
c. Aristokratis dimana pendidikan hanya diikuti oleh segolongan masyarakat saja, yaitu 
para raja dan bangsawan. Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk 
mengajar anak-anaknya di istana disamping ada juga yang mengutus 
anakanaknya 
yang pergi belajar ke guru-guru tertentu. 
d. Pengelola pendidikan adalah kaum Brahmana untuk agama Hindu dan para Biksu 
untuk agama Buddha.
2. Pendidikan di Indonesia pada Zaman Penyebaran Islam
Pada permulaan abad ke-16 dan mungkin di dalam abad ke- 13 banyak masyarakat yang 
dahulu memeluk agama Hindu kemudian memeluk agama Islam. Mungkin sekali agama 
Islam mereka telah disesuaikan dengan keadaan dan adat istiadat dan mungkin dengan 
kebudayaan bangsa Hindu. Proses penyebaran Islam dilakukan dengan berbagai jalan, mulai 
dari perdagangan, pernikahan, pengobatan, budaya, maupun pendidikan.
Pengajaran-pengajaran di langgar-langgar merupakan pengajaran permulaan. Sedangkan 
pengajaran di pesantren ditujukan kepada mereka yang ingin memperdalam ilmu ketuhanan.
Apa yang diajarkan di langgar merupakan pelajaran agama dasar, mulai pelajaran dalam 
huruf Arab, tapi tak jarang pula dilakukan secara langsung mengikuti guru dengan menirukan 
apa yang telah dibacakan dari kitab Al-Qur’an. Tujuan pendidikan dan pengajaran di langgar 
adalah murid dapat membaca dan lebih tepat melagukan menurut irama tertentu seluruh isi 
Al-Qur’an.
Sistem pengajaran secara hoofdelyk atau individual. Yang secara individual anak satu 
persatu kehadapan guru sedang anak yang lain menunggu gilirannya. Sementara menunggu, 
murid-murid lainnya duduk bersila melingkar dengan tetap berlatih melagukan ayat-ayat suci.
B. Pendidikan Di Nusantara Pada Masa Kolonialisme
1. Pendidikan pada masa penjajahan Portugis 
Pada permulaan abad ke-16, bangsa Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama datang 
ke Indonesia. Kemudian, tidak begitu lama disusul oleh bangsa Spanyol. Tujuan utama 
mendatangi Indonesia adalah mencari rempah-rempah yang banyak dihasilkan oleh Maluku.
Perdagangan mereka makin maju dan makin banyak bangsa Portugis dan Spanyol yang 
datang ke Maluku.
Di samping berdagang, mereka bertujuan menyebarkan agama Katolik. Untuk tugas-tugas 
ini, didatangkan para misionaris. Fransiskus Xaverius, setelah menyelesaikan studinya di 
Sarekat Yesus, diberi tugas ke daerahdaerah timur Asia. Maka, ini juga tujuan beliau datang 
ke Maluku. Beliaulah yang dianggap sebagai peletak dasar agama katolik di Indonesia.
2. Pendidikan pada masa penjajahan belanda
Mulai abad ke-16, bangsa Barat, yaitu bangsa Portugis (abad ke-15), lalu disusul oleh 
bangsa Belanda, dan diselingi bangsa Inggris (1811-1816) datang ke Tanah Air. Tujuan 
mereka pertama kalinya adalah berdagang tapi lambat laun menjajah seluruh wilayah 
Indonesia. Penjajahan Belanda dalam perjalanan sejarahnya menunjukkan bagaimana ia 
menerapkanj kebijakan pendidikan yang diskriminatif dan menghalangi pertumbuhan 
penduduk lokal sudah ada. Pada 1882, Belanda membentuk pristerrraden yang mendapat 
tugas mengawasi pengajaran agama di pesantren-pesantren. Pada tahun 1602, bangsa Belanda 
mendirikan perkumpulan dagang yang terkenal dengan nama VOC. Dengan berdirinya VOC 
ini, mereka melakukan monopoli perdagangan, tidak hanya rempahrempah saja, tetapi hasil 
bumi Indonesia juga diperjualbelikan. VOC makin kuat dan besar pengaruhnya di seluruh 
Indonesia.
Bangsa Belanda yang beragama Kristen Protestan sambil berdagang juga 
menyebarkan agamanya. Konteks penyebaran agama itu menjadi permulaan kebijakan 
pendidikan kolonial Belanda. Sekolah-sekolah didirikan di Pulau Ambon dan Pulau Bacan 
(Maluku). Sekolah-sekolah ini belum mengjarkan pengetahuan umum. Bahasa pengantar 
yang dipakai ialah bahasa Melayu, baru pada kelas-kelas yang lebih tinggi dipakai bahasa 
Belanda. Pihak Belanda juga mendirikan sekolah-sekolah bagi calon pegawai VOC. Pada 
1799, VOC jatuh karena pegawainya bekerja tanpa disiplin, korupsi, dan manajemen moratmarit. Dengan cepat, pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan VOC. Mulailah negara 
kita di bawah kekuasaan pemerintah Belanda dengan nama Hindia-Belanda. Perlu disebutkan 
di sini bahwa meskipun sekolah-sekolah telah banyak berdiri, secara formal sekolahsekolah 
tersebut tidak didirikan atas nama VOC, tetapi didirikan oleh orangorang dari kalangan 
agama, yaitu agama Kristen Protestan. Dengan demikian, sekolah-sekolah itu mempunyai 
corak dan ciri-ciri Kristen. Kebanyakan sekolah yang ada baru berada pada tingkatan 
pendidikan dasar/rendah. Sebagai gambaran dapat disebutkan beberapa sekolah :
A. Di Ambon (1645) terdapat 33 sekolah dengan 1300 murid, pada 1708 meningkat 
menjadi 39366 murid.
B. Di daerah-daerah Maluku Utara/barat laut terdapat 39 sekolah dengan 1057 murid.
C. Pulau-pulau lainnya yang juga telah ada sekolah, seperti Pulau Timor (1710), 
Pulau Sawu (1756), Pulau Kei (1635), Pulau Kisar, Pulau Wetar, Pulau Damar, 
dan Pulau Letti (1700).
D. Di luar daerah Maluku pada zaman VOC baru ada sekolah di Batavia (Jakarta) 
yang berdiri sejak 1617.
E. Menjelang bubarnya VOC, sekolah-sekolah baru dapat didirikan lebih luas dan 
lebih banyak sehingga meliputi derah P. Jawa terutama di daerah pantai, Sumatra, 
dan Sulawesi (Ujung Pandang).
C. Pendidikan di Indonesia masa Kemerdekaan sampai dengan orde lama
a. Pendidikan Masa Kemerdekaan (1945-1950) 
Mohammad Yamin sebagai menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan, pada 
masa itu memberikan penjelasan diposisi pendidikan sebagai landasa pembangunan 
masyarakat indonesia secara nasionalisme, yang artinya pendidikan itu harus mengangkat tata 
nilai sosial yang dijadikan identitas bangsa dengan corak tradisi,agama,budaya,bahasa,ras, 
dan sukunya yang beragam untuk menggantikan sitem pendidikan pada warisan kolonial. 
Secara garis besar, pendidikan nasional ialah bentuk reaksi pada sistem pendidikan yang 
dimana bersifat deskriptif serta elitis. Karena itu tujuan pendidikan nasional adalah 
membentuk masyarakat yang demokratis. 
Sistem persekolahan dan Kurikulum Pendidikan di era awal kemerdekaan 
Sistem susunan disekolah setelah Indonesia merdeka berdasarkan tingkat pendidikan 
seperti di masa Jepang tetap diteruskan, sedangkan pelajaran tetap sama dan bahasa 
pengantar yang telah ditetapkan ialah bahasa Indonesia. Buku-buku pelajaran yang digunakan 
adalah merupakan buku terjemahan dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia yang 
sudah dibuat pada masa Jepang. 
Dibawah ini merupakan susunan persekolahan dan kurikulum yang berlaku sejak 
tahun 1945-1950 yaitu: 
 Pendidikan Rendah 
Dimulai dari pendidikan yang rendah di Indonesia dimulai pada awal kemerdekaan 
disebut dengan Sekolah Rakyat (SR) masa pendidikannya awalnya 3 tahun menjadi 6 tahun. 
Yang dimana kurikulum SR diatur sesuai dengan keputusan Menteri PKK pada tanggal 19 
November 1946 No. 1153/Bhg A yang menetapkan daftar pelajaran sekolah rakyat dimana 
penekanannya di pelajaran bahasa dan berhitung. Hal ini dapat dilihat dari 38 jam pelajaran 
seminggu, 8 jam digunakan untuk bahasa Indonesia, 4 jam digunakan untuk bahasa daerah 
dan 17 jam digunakan untuk berhitung untuk kelas IV, V dan VI. 
 Pendidikan Guru 
Pada periode diantara tahun 1945-1950 dikenal tiga jenis pendidikan guru yaitu: 
Sekolah Guru B (SGB), masa pendidikan 4 tahun serta tujuan pendidikan guru adalah untuk 
sekolah rakyat. Dan murid yang diterima adalah tamatan sekolah rakyat yang lulus dalam 
ujian akan masuk kesekolah lanjutan. Pelajaran yang diberikan kepada murid bersifat umum 
dimulai dari kelas I,II,III sedangkan pendidikan keguruan baru diberikan di kelas IV. 
-
Pendidikan Umum 
Terdapat dua jenis pendidikan Umum yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 
sekolah Menengah Tinggi (SMT). Sekolah Menengah Pertama (SMP), sama seperti di zaman 
jepang, juga SMP menggunakan sistem pelajaran yang sama, tapi setelah dikeluarnya surat 
keputusan oleh menteri PPK, maka dibuatlah pembagian A dan B dimulai dari kelas II 
sehingga didapat kelas IIA,IIB, IIIA dan IIIB. Pada bagian A diberikan setidaknya sedikit 
ilmu alam dan ilmu pasti. Tetapi lebih banyak diberikan pelajaran bahasa dan praktek 
administrasi dan B sebaliknya. 
-Pedidikan Kejuruan 
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan ekonomi dan pendidikan kewanitaan: Pendidikan 
ekonomi, masa pendidikannya tiga tahun sesudah Sekolah Rakyat. Yang dimana sekolah 
dagang ini10 memiliki tujuan agar bisa memenuhi kebutuhan tenaga administrasi. Pendidikan 
Kewanitaan, sesudah kemerdekaan pemerintah akhirnya membuka Sekolah Kepandaian Putri 
(SKP) dan pada tahun 1947 sekolah guru kepandaian putri (SGKP) masa pelajara yang di 
tempuh empat tahun setelah SMP. 
 Pendidikan Teknik 
Seperti sekolah lain, keadaan Sekolah Teknik tidaklah teratur karena disamping 
pelajaranya sering terlibat dalam pertahanan negara, sekolah tersebut kadang-kadang juga 
dipakai sebagai pabrik senjata. 
-Pendidikan Tinggi 
Merupakan sekolah program lanjutan. Setelah bersekolah di pendidikan kejuruan atau 
teknik bisa memperdalam ilmu pada bidang masing-masing, dan bisa menyalurkan ilmu 
tersebut. 
- Pendidikan Tinggi Republik 
Perkembangan pendidikan tinggi sesudah proklamasi kendati mengalami berbagai 
tantangan, tetapi tidak juga dapat dipisahkan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan 
dan salah satu kekuatan dari seluruh kekuatan rakyat Indonesia. Ketika awal kemerdekaan di 
Jakarta pada waktu itu merupakan daerah pendudukan Belanda, berdiri sekolah Tinggi 
kedokteran sebagai kelanjutan Ika Daigaku zaman Jepang. 
Pendidikan Berbasis Agama 
Penyelenggaraan pendidikan agama di Indonesia awalnya ialah madrasah dan pesantren 
yang pada hakikatnya adalah satu alat dan pencerdasan rakyat biasa yang sudah berurat 
berakar dalam masyarakat Indonesia pada umumnya.
D. Pendidikan Di Indonesia Pada Masa Orde Baru
Orde baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998, dan dapat dikatakan sebagai era 
pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan 
dasar, terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) 
Pendidikan Dasar. Namun, yang disayangkan adalah pengaplikasian inpres ini hanya 
berlangsung dari segi kuantitas tanpa diimbangi dengan perkembangan kualitas.13 Yang 
terpenting pada masa ini adalah menciptakan lulusan terdidik sebanyak-banyaknya tanpa 
memperhatikan kualitas pengajaran dan hasil didikan. 
Kurikulum-kurikulum yang digunakan pada masa orde baru yaitu sebagai berikut:
1. Kurikulum 1968
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang 
dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Dengan suatu pertimbangan untuk tujuan pada 
pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi 
materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. 
Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di 
lapangan. 
2. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien 
berdasar MBO (management by objective). Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci 
dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah 
“satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran 
dirinci menjadi : tujuan instruksional umum (TIU), tujuan instruksional khusus (TIK), materi
pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Pada kurikulum ini peran 
guru menjadi lebih penting, karena setiap guru wajib untuk membuat rincian tujuan yang 
ingin dicapai selama proses belajar-mengajar berlangsung. Tiap guru harus detail dalam 
perencanaan pelaksanaan program belajar mengajar. Setiap tatap muka telah di atur dan 
dijadwalkan sedari awal. Dengan kurikulum ini semua proses belajar mengajar menjadi 
sistematis dan bertahap.18
3. Kurikulum 1984 
Kurikulum 1984 mengusung “process skill approach”. Proses menjadi lebih penting 
dalam pelaksanaan pendidikan. Peran siswa dalam kurikulum ini menjadi mengamati sesuatu, 
mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa 
Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). CBSA memposisikan guru sebagai 
fasilitator, sehingga bentuk kegiatan ceramah tidak lagi ditemukan dalam kurikulum ini. 
Pada kurikulum ini siswa diposisikan sebagai subjek dalam proses belajar mengajar. Siswa 
juga diperankan dalam pembentukkan suatu pengetahuan dengan diberi kesempatan untuk 
mengemukakan pendapat, bertanya, dan mendiskusikan sesuatu.
4. Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum 
sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984. Pada kurikulum ini bentuk opresi kepada 
siswa mulai terjadi dengan beratnya beban belajar siswa, dari muatan nasional sampai muatan lokal.
E. Proses Pendidikan Pada Era Reformasi
Masa reformasi terjadi pada tahun 1998, dimana mahasiswa Indonesia melakukan 
Power People (demo besar- besaran) untuk menjatuhkan orde baru atau pemerintahan 
Soeharto yang sudah berlangsung selama 32 tahun. Demo besar- besaran ini 
kemudian membuahkan hasil, presiden Soeharto yang militeristik dan diktator 
kemudian mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998. Tanggal ini
kemudian di tetapkan sebagai puncak terjadinya reformasi. 

Perkembangan Pendidikan Era Reformasi
Pendidikan pada masa reformasi mengalami suatu perkembangan yang pada 
dasarnya lebih maju dari pada pendidikan pada masa orde baru. Pendidikan pada zaman
reformasi mengutamakan pada perkembangan peserta didik yang lebih terfokus pada
pengelolaan masing – masing daerah (otonomi pendidikan). Dalam hal tenaga kependidikan
di berlakukan suatu kualifikasi profesional untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan
Indonesia. Sedangkan sarana dan prasarana juga sudah mengalami suatu peningkatan yang
baik. Namun dari pada hal tersebut pendidikan yang ada di Indonesia masih belum
mengalami suatu pemerataan. Ini terlihat dari adanya beberapa sekolah- sekolah terutama di 
daerah pedalaman masih terdapat keterbatasan dalam berbagai aspek penyelenggaraannya. 
Dinamika sosial politik Indonesia yang juga berdampak pada perubahan kurikulum
merupakan suatu bentuk penyempurnaan dalam bidang pendidikan untuk meningkatan mutu 
pendidikan di Indonesia.

Jumat, 20 Mei 2022

JENIS-JENIS SEJARAH: SEJARAH KOTA

JENIS-JENIS SEJARAH: SEJARAH KOTA
Mata Kuliah-Ilmu Sejarah

A. Pengertian Kota

Kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batas wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan serta pemukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan. Sistem kota adalah sekelompok kota-kota yang saling tergantung satu sama lain secara fungsional dalam suatu wilayah dan berpengaruh terhadap wilayah sekitarnya. Secara umum, definisi kota adalah kawasan yang menjadi pemusatan penduduk dan industri serta jasa pelayanan. 

Pengertian kota menurut ahli adalah sebagai berikut:

1. Dwight Sanderson (1942)

Kota adalah tempat yang berpenduduk 10.000 orang atau lebih.

2. Wirth (P.J.M. Nas, 1979)

Kota adalah suatu permukiman yang relatif besar, padat, dan permanen, serta dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Karena jumlah penduduk dan kepadatannya,serta sifatnya sebagai wilayah tempat tinggal permanen yang heterogen, hubungan sosial di kota menjadi longgar, acuh tak acuh, dan tidak akrab.

3. Harris dan Ullman (P.J.M. Nas, 1979)

Kota merupakan pusat untuk permukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Pertumbuhannya yang cepat dan luasnya wilayah kota menunjukkan eksploitasi bumi dilakukan dengan cara yang sudah unggul.

B. Sejarah Kota

Sejarah kota adalah kajian yang membahas tentang sejarah yang sudah terbatasi oleh kotak pembahasan suatu kota sebagai ruang lingkup. Dimana, batasan tersebut dapat ditetapkan menurut wilayah administrasi. Di dalam sejarah kota didalamnya dituliskan berdasarkan perkembangan di masa kota tersebut.Dalam kurun waktu yang panjang, sejarah kota di Indonesia belum mendapat perhatian kalangan sejarawan akademis. Perhatian pada penulisan sejarah Indonesia sekian lama lebih tertarik dalam penulisan sejarah politik, sejarah tokoh-tokoh besar, atau juga warisan sejarah kerajaan masa lampau.Dalam konteks sebuah kajian ilmiah, di semua jenis penulisan, kota hanyalah merupakan lokasi bagi kajian yang bermacam-macam. Jika semua yang mengenai kota, orang kota, kejadian di kota, dapat menjadi bidang sejarah kota, kiranya semua hal termasuk di dalamnya. Dengan memperhatikan luasnya bidang garapan tersebut maka mestinya akan beragam tema dan pendekatan yang lahir dalam melihat dan menulis tentang sejarah kota. Ini pula yang kemudian kita akan temukan dalam beragam tema dan focus perhatian, khususnya oleh para sejarawan dalam mengungkap tentang sejarah kota itu sendiri. Namun yang terpenting lebih awal dicermati bahwa bagaimana sejarah sebuah kota itu ditulis.

C. Ruang Lingkup Sejarah Kota

1. Era Kota Prasejarah 

Pemukiman yang menjadi cikal bakal terbentuknya komunitas sudah menjadi perhatian bagi sejarawan. Namun, secara khusus arkeolog mengungkapkan kota-kota prasejarah tersebut. Pada masa permulaan sejarah pemukiman di Indonesia, sudah terbentuk kota-kota tempat berkumpul dan juga beraktifitas bagi para penduduknya. Pada kota prasejarah banyak ditemukan situs pemukiman berkelompok dan juga belum ada penyebaran infrastruktur secara lebih luas. Kota prasejarah merupakan perwujudan kota-kota besar awal dunia, seperti Mesopotamia, Baghdad, Yunani, Romawi. Di Indonesia, beberapa pemukiman awal sudah dikategorikan sebagai kota prasejarah Indonesia atau disebut juga dengan kota kuno. Seperti Kota Demak, Cirebon, Banten Lama, ataupun di Gresik.

2. Kota Tradisional 

Banyak kota-kota di Indonesia yang nerupakan warisan kota tradisional. Kota tradisional secara umum dapat dikatakan sebagai kota pusat kerajaan-kerajaan awal di Nusantara atau ibukota kerajaan yang ada sampai datangnya kekuatan Barat atau sebelum adanya pengaruh dan kekuatan kolonial. Kota tradisional umunya sebagai pusat kerajaan-kerajaan di masa lalu. Banyak kota-kota tersebut yang dibangun berdasarkan pertimbangan magis-religius atau kro-kosmos dan juga kepercayaan setempat. Terdapat kota tradisional yang dibangun berdasarkan garis imajiner dan ada juga yang dibangun berdasakan arah mata angin. Kota tradisional ditandai dengan pembagian yang jelas berdasarkan status sosial dan dekatnya kedudukan pemukiman dengan istana. Dalam kota tradisional terdapat simbol-simbol dari kekuasaan raja, hal ini diwujudkan dalam bangunan fisik, upacara-upacara, kraton, atau istana. Ciri kota tradisional tidak terbatas pada waktu. Misalnya di Surakarta meskipun di abad ke-19, kekuasaan Hindia Belanda sudah berlaku disini. Namun, aktivitas dan juga kekhasan kota tradisonal Surakarta sudah berlangsung dengan segala macam ritual dan juga kebiasaannya. Kraton Surakarta tetap menapakkan aura tradisionalnya tanpa banyak terpengaruh dengan keriuhan aktivitas kolonial.

3. Kota Kolonial

Kota kolonial merupakan hasil dari keinginan para penjajah untuk dapat memiliki sebuah tempat hunian yang memiliki kesamaan seperti tempat asal para penjajah, bercirikan adanya segresi etnis, sosial dan budaya. Kota kolonial identik dengan bentukan benteng yang di dalamnya terdapat tempat bekerja, tempat tinggal, tempat bersosialita, rumah ibadah vrijmetselarij. Dalam buku yang berjudul The Southeast Asian City, Mc Gee mengemukakan juga beberapa ciri kota kolonial seperti adanya sebuah permukiman yang terencana untuk para pedagang yang datang dan juga para penguasa atau penjajah. Di Indonesia, kota kolonial pertamanya adalah Batavia. Kota Batavia dibangun atas dasar penguasaan dagang, pusat pemerintahan kota dan markas besar VOC, transaksi dagang yang menghubungkan Batavia dengan pelabuhan lalu lintas Indonesia naik antar kota maupun antar pulau bahkan dengan negara luar. Perkembangan kota kolonial Belanda di Indonesia terbagi menjadi dua tahap, tahap pertama perkembangan kota kolonial pada daerah pesisir dan sungai. Tahap selanjutnya perkembangan kota kolonial pada daerah pedalaman. Dari dua tahapan perkembangan kota kolonial tersebut memperlihatkan perbedaan orientasi, visi misi dan tujuan yang kontras dari penjajahan Belanda di Indonesia.

D. Kota modern 

Kota modern dipandang sebagai kota yang maju dan mampu memenuhi kebutuhan hidup orang banyak, terutama kualitas kehidupan yang mumpuni menjadi hal wajib pada kota modern. Kota ideal adalah kota yang mampu menyelaraskan sosial, fisik, dan ekonomi berbalut dengan budaya dan sejarah yang dimiliki oleh kota tersebut.

a. Masyarakat Sejahtera dalam finansial

Kota modern harus didukung oleh masyarakat yang sejahtera dalam finansial, walaupun tidak semua masyarakat golongan keatas, tetapi setidaknya kota modern mampu mengangkat masyarakat nya menjadi masyarakat kelas elit walaupun tidak mapan. Artinya walaupun masyarakat nya kelas bawah, tetapi kota tersebut tetap menyediakan fasilitas kelas satu untuk masyarakat itu.

b. Kota terdepan dalam pelayanan

Kota modern harus menyediakan pelayanan dan selalu mengedepankan layanan nya guna menarik para human urban untuk tinggal dan menetap pada kota modern itu. Pelayanan- pelayanan yang dikedepankan adalah pelayanan – pelayanan umum yang mampu memenuhi kebutuhan para pengguna kota atau masyarakat umum.

c. Visual kota mengundang pesona

Kota yang ideal dan modern dapat dilihat dari fisiknya, secara visual kota terlihat tertata. Secara kenyamanan dapat dirasakan langsung dan tidak perlu melihat dengan cara - cara yang lain lagi. Karena visual dan pesona telah merubah rasa ketidaknyamanan menjadi sesuatu yang lebih menarik dan mengundang.

Salah satu ciri khas kota modern adalah pembagian pemukiman yang kebanyakan berdasarkan atas kelas sosial. Terlihat makin tergesernya penghuni kota yang lama oleh penghuni baru yang menempati bagian-bagian kota strategis. Bangunan fisik kota juga mengalami perubahan sesuai dengan pergeseran kelas itu. Dalam kota modern, pembagian penduduk berdasarkan kelas sosial dengan mobilitas sosial yang lebih lentur, juga ditinggalkannya cara berproduksi manusia oleh mesin yang memproduksi barang - barang secara massal dengan pelayanan dan kualitas yang baik, organisasi produksi dipegang oleh unit-unit ekonomi yang cenderung besar dan lebih rasional. Hal lain yang mengemuka dalam pembahasan tentang kota modern adalah tema urbanisasi. Berbagai dinamika dan problematika urbanisasi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari ide-ide kemodernan pada sebuah kota. Kemajuan sebuah kota akan selalu seiring dengan pesatnya perkembangan penduduk perkotaan. Pembahasan tentang sejarah kota pada aspek modern tidak semata-mata pada hal-hal yang dianggap baru dan pembangunan fisik modernisasinya, tetapi juga pada permasalahan sosial dari modernisasi itu sendiri. Persoalan sosial itu seperti kemiskinan, kriminalitas, prostitusi, aborsi, dan tuntutan-tuntutan pelayanan pendidikan dan kesehatan. 

Jumat, 13 Mei 2022

HISTORIOGRAFI INDONESIA

HISTORIOGRAFI INDONESIA
Mata Kuliah-Ilmu Sejarah 

A. Pengertian Historiografi
Historiografi secara bahasa merupakan gabungan dari dua kata, yaitu histori 
yang berarti sejarah dan grafi memiliki arti deskripsi/penulisan.1 Kata Historia sendiri 
berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu. Akan tetapi dalam perkembangan 
berikutnya, kata “historia” dipakai untuk pemaparan mengenai tindakan – tindakan 
manusia yang bersifat kronologis terjadi di masa lampau.2 Historiografi adalah cara 
penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan, dari 
penulisan itu akan memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian sejak 
awal (fase perencanaan) sampai dengan akhirnya (penarikan kesimpulan).3
Adapun definisi historiografi menurut para ahli, antara lain:
1. Louis Gottschalk
Menurut Louis Gottschalk, Historiografi adalah bentuk publikasi, baik dalam 
bentuk lisan maupun tulisan mengenai peristiwa atau kombinasi peristiwaperistiwa di masa lampau.
2. Prof Dr Ismaun M.Pd
Menurut Prof Dr Ismaun M.Pd, Historiografi adalah pelukisan sejarah, 
gambaran sejarah tentang peristiwa yang terjadi pada masa lalu yang disebut 
sejarah.
3. Drs. Sugiyanto, M. Hum
Historiografi adalah bagian daripada pengulasan sejarah yang terdapat dalam 
puncak dari kegiatan penelitian sejarah setelah topik yang menarik untuk 
metode sejarah telah dipilih, sehingga bagian ini bersumber dalam serangkaian 
informasi yang terkandung di dalamnya ditafsirkan.
Secara teoritis historiografi mempunyai dua makna, pertama penulisan sejarah 
(historical writting), kedua sejarah penulisan sejarah (historical of historical writting). 
Dalam metode sejarah historiografi merupakan tahap akhir dan sebagai tinjauan atas 
hasil karya tulis sejarah. Dalam pengertian yang kedua kita dapat melihat bagaimana 
perkembangan penulisan sejarah di Indonesia.4
Perkembangan historiografi di Indonesia paling tidak terdapat empat jenis kategori, 
yaitu : 
1) Historiografi Tradisional.
2) Historiografi Kolonial 
3) Historiografi Indonesia di masa Kemerdekaan
4) Historiografi Indonesia Modern
B. Historiografi Tradisional
Sesuai dengan namanya, historiografi tradisional, maka historiografi ini berasal 
dari masa tradisional, yakni masa kerajaan-kerajaan kuno. 
Adapun ciri-ciri dari historiografi tradisional adalah sebagai berikut :
1. Istana-Sentris, artinya segala sesuatu dipusatkan pada raja atau keluarga raja 
(keluarga istana), maka sering juga disebut istana sentris atau keluarga sentris atau dinasti sentris.
2. Regio-Sentris (kedaerahan), maksudnya historiografi tradisional banyak dipengaruhi daerah, misalnya oleh cerita-cerita gaib atau cerita-cerita dewa di daerah tersebut.
3. Feodalis-aristokratis, artinya yang dibicarakan hanyalah kehidupan kaum bangsawan feodal, tidak ada sifat kerakyatannya. Historiografi tersebut tidak memuat riwayat kehidupan rakyat, tidak membicarakan segi-segi sosial dan ekonomi dari kehidupan rakyat. 
4. Religio magis, artinya dihubungkan dengan kepercayaan dan hal-hal yang gaib.
5. Historiografi tradisional digunakan sebagai alat legitimasi (pengesahan) kekuasaan raja.
Kelemahan historiografi tradisional adalah5 :
● Memiliki subyektifitas yang tinggi, sehingga cenderung dibuat berdasarkan kepentingan dari sang penulis atau penguasa. Hal tersebut menjadikan beberapa peristiwa sejarah dalam historiografi tradisional diragukan obyektifitas dan netralitasnya.
● Tidak menggunakan metodologi yang jelas
● Hanya mengungkapkan peristiwa sejarah dalam aspek kehidupan yang terbatas.
● Tidak memiliki sumber sejarah yang jelas
● Menggabungkan unsur supranatural dan realitas, sehingga mempersulit 
pembaca untuk mencari kebenaran sejarah.
Kelebihan historiografi tradisional adalah :
● Menggunakan romantisme klasik dalam penulisan sejarah sehingga menarik 
untuk dibaca.
● Mampu menunjukan legitimasi raja dan keadaan politik kerajaan.
● Historiografi tradisional menggunakan konsep genealogi (silsilah) secara runtut 
dan kronologis.
Contoh-contoh historiografi tradisional di antaranya ialah : Sejarah Melayu, hikayat raja-raja Pasai, hikayat Aceh, Babad Tanah Jawi, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Kartasura dan masih banyak lagi.
C. Historiografi Kolonial
Historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang menempatkan orang barat (Belanda) sebagai pelaku utama. Penulisan historiografi kolonial mulai dirintis pada masa Vereenigde Oostindinche Compagnie (VOC) alias Belanda yang datang ke Nusantara pada pengunjung abad ke-16 Masehi kemudian menjajah selama berabadabad lamanya.
Historiografi kolonial merupakan penulisan sejarah pada masa kolonial. Fokus utama historiografi kolonial adalah kehidupan warga Belanda (Eropa) di Hindia Belanda karena ditulis oleh orang-orang Belanda atau Eropa.
Ciri – Ciri Historiografi Kolonial :
1. Neerlandosentrisme atau Eropasentrisme
2. Bersifat mitologis
3. Bersifat subjektif 
4. Mengabaikan sumber local
5. Berisi tentang sejarah orang-orang besar
Kelebihan historiografi kolonial :
● Historiografi masa kolonial ikut serta dalam memperkuat proses naturalisasi historiografi di Indonesia. Perkembangan historiografi Indonesia tidak bisa mengabaikan literatur historiografi dari sejarawan kolonial.
● Sejarawan kolonial berorientasi kepada fakta-fakta dan kejadian-kejadian. Kekayaan fakta-fakta sangat mencolok. Kekurangan historiografi kolonial :
● Subyektifitas tinggi terhadap Belanda: Sejarawan kolonial berorientasi pada kejadian-kejadian yang hanya menyangkut tentang orang Belanda.
● Kekurangan kualitatif: Buku-buku yang ditulis hampir seluruhnya membahas tentang pejabat-pejabat Belanda serta penduduk pribumi yang dijumpai.
● Kekurangan kuantitatif: hanya sedikit karya-karya yang diterbitkan karena sistem kerahasiaan yang berlaku pada abad ke-18. Berdasarkan jumlah arsip, 
sumber yang terbuka hanya sedikit sekali.
Contoh historigrafi kolonial, antara lain sebagai berikut:
1) Indonesian Trade and Society karangan Y.C. Van Leur.
2) Indonesian Sociological Studies karangan Schrieke
3) Indonesian Society in Transition karangan Wertheim.
D. Historiografi Indonesia di masa Kemerdekaan
Penulisan sejarah pada masa pasca kemerdekaan didominasi oleh penulisan 
mengenai peristiwa-peristiwa yang masih hangat waktu itu, yaitu mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa ini penulisan sejarah meliputi beberapa peristiwa penting, misalnya proklamasi kemerdekaan Indonesia dan pembentukan pemerintahan Republik Indonesia. Kejadian kejadian sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia yang meliputi sebab-sebab serta 
akibatnya bagi bangsa ini merupakan sorotan utama para penulis sejarah.
Sesudah bangsa Indonesia memperoleh kemerdekan pada tahun 1945 maka sejak saat itu ada kegiatan untuk mengubah penulisan sejarah Indonesia sentris. Artinya 
bangsa Indonesia dan rakyat Indonesia menjadi fokus perhatian, sasaran yang harus diungkap, sesuai dengan kondisi yang ada sebab yang dimaksud dengan sejarah 
Indonesia adalah sejarah yang mengungkapkan kehidupan bangsa dan rakyat Indonesia dalam segala aktivitasnya, baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Dengan demikian maka muncul historiografi Indonesia di masa kemerdekaan yang memiliki 
sifat-sifat atau ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mengingat adanya character and nation-building.
2) Indonesia sentris.
3) Sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia.
4) Disusun oleh orang-orang atau penulis-penulis Indonesia sendiri, mereka yang 
memahami dan menjiwai, dengan tidak meninggalkan syarat-syarat ilmiah.
Kelebihan historiografi Indonesia di masa kemerdekaan8 :
● Menumbuhkan rasa atau jiwa nasionalisme dan patriotisme.
● Narasinya berfokus pada nilai-nilai tersirat dari peristiwa sejarah.
● Mampu menumbuhkan persatuan dalam masyarakat.
Kelemahan historiografi Indonesia di masa kemerdekaan : 
● Sering terjadinya rawan anakronisme atau tidak sesuai urutan waktu dan berkesinambungan antar aspek di dalam rekonstruksi sejarah. 
● Munculnya sebuah gambaran tokoh sejarah nasional yang berlebihan. 
● Rawan disalahgunakan oleh rezim penguasa untuk melakukan propaganda.
Contoh historiografi Indonesia di masa kemerdekaan, antara lain sebagai berikut:
1. Sejarah Perlawanan-Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme, editor Sartono Kartodirdjo.
2. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I sampai dengan VI, editor Sartono Kartodirdjo.
3. Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia Tenggara, karya R. Moh. Ali.
E. Historiografi Indonesia Modern
Historiografi Indonesia modern dimulai sejak diselenggarakannya Seminar Sejarah Nasional Indonesia di Yogyakarta dimulai pada tahun 1957. Semenjak itu 
penulisan sejarah Indonesia mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia ditulis oleh orang Indonesia sendiri. Sehingga dengan demikian dapat dilihat perkembangan Indonesia-sentris yang mulai beranjak. Historiografi modern muncul akibat tuntutan ketepatan teknik untuk mendapatkan fakta-fakta sejarah. 
Adapun ciri-cirinya adalah :
1. Bersifat metodologis: sejarawan diwajibkan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.
2. Bersifat kritis historis: artinya dalam penelitian sejarah menggunakan pendekatan multidimensional.
3. Sebagai kritik terhadap historiografi nasional lahir sebagai kritik terhadap historiografi nasional yang dianggap memiliki kecenderungan menghilangkan 
unsur asing dalam proses pembentukan keindonesiaan.
4. Munculnya peran-peran rakyat kecil.
Kelebihan historiografi Indonesia modern :
● Mengubah pandangan religiomagis dan juga kosmologis menjadi pandangan yang sifatnya ilmiah.
● Menggunakan penulisan sejarah kritis.
● Menggunakan pendekatan multidimensional.
● Menggunakan dinamika masyarakat Indonesia serta juga berbagai aspek kehidupan.
Kekurangan:
● Belum mampu untuk menjelaskan sejarah secara optimal.
● Cenderung kurang fleksibel karena terpaku pada metode ilmiah.
● Belum tentu bertujuan untuk dapat meningkatkan rasa nasionalisme, terkadang hanya berfokus pada tujuan akademis.
Berikut beberapa contoh karya historiografi Indonesia modern:
1. Pemberontakan Petani Banten 1888 karya Sartono Kartodirdjo
2. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara abad ke-16 dan 17 karya Adrian B Lapian
3. Menengok Sejarah Konstitusi Indonesia karya Anhar Gonggong
4. Islam dan Masyarakat karya Taufik Abdullah

PEMERINTAHAN ORDE BARU

  Latar Belakang Lahirnya Orde Baru Mata kuliah - Sejarah Indonesia       Setelah Gerakan 30 September dapat ditumpas, berdasarkan berbagai ...