JENIS-JENIS SEJARAH: SEJARAH KOTA
Mata Kuliah-Ilmu Sejarah
A. Pengertian Kota
Kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batas wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan serta pemukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan. Sistem kota adalah sekelompok kota-kota yang saling tergantung satu sama lain secara fungsional dalam suatu wilayah dan berpengaruh terhadap wilayah sekitarnya. Secara umum, definisi kota adalah kawasan yang menjadi pemusatan penduduk dan industri serta jasa pelayanan.
Pengertian kota menurut ahli adalah sebagai berikut:
1. Dwight Sanderson (1942)
Kota adalah tempat yang berpenduduk 10.000 orang atau lebih.
2. Wirth (P.J.M. Nas, 1979)
Kota adalah suatu permukiman yang relatif besar, padat, dan permanen, serta dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Karena jumlah penduduk dan kepadatannya,serta sifatnya sebagai wilayah tempat tinggal permanen yang heterogen, hubungan sosial di kota menjadi longgar, acuh tak acuh, dan tidak akrab.
3. Harris dan Ullman (P.J.M. Nas, 1979)
Kota merupakan pusat untuk permukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Pertumbuhannya yang cepat dan luasnya wilayah kota menunjukkan eksploitasi bumi dilakukan dengan cara yang sudah unggul.
B. Sejarah Kota
Sejarah kota adalah kajian yang membahas tentang sejarah yang sudah terbatasi oleh kotak pembahasan suatu kota sebagai ruang lingkup. Dimana, batasan tersebut dapat ditetapkan menurut wilayah administrasi. Di dalam sejarah kota didalamnya dituliskan berdasarkan perkembangan di masa kota tersebut.Dalam kurun waktu yang panjang, sejarah kota di Indonesia belum mendapat perhatian kalangan sejarawan akademis. Perhatian pada penulisan sejarah Indonesia sekian lama lebih tertarik dalam penulisan sejarah politik, sejarah tokoh-tokoh besar, atau juga warisan sejarah kerajaan masa lampau.Dalam konteks sebuah kajian ilmiah, di semua jenis penulisan, kota hanyalah merupakan lokasi bagi kajian yang bermacam-macam. Jika semua yang mengenai kota, orang kota, kejadian di kota, dapat menjadi bidang sejarah kota, kiranya semua hal termasuk di dalamnya. Dengan memperhatikan luasnya bidang garapan tersebut maka mestinya akan beragam tema dan pendekatan yang lahir dalam melihat dan menulis tentang sejarah kota. Ini pula yang kemudian kita akan temukan dalam beragam tema dan focus perhatian, khususnya oleh para sejarawan dalam mengungkap tentang sejarah kota itu sendiri. Namun yang terpenting lebih awal dicermati bahwa bagaimana sejarah sebuah kota itu ditulis.
C. Ruang Lingkup Sejarah Kota
1. Era Kota Prasejarah
Pemukiman yang menjadi cikal bakal terbentuknya komunitas sudah menjadi perhatian bagi sejarawan. Namun, secara khusus arkeolog mengungkapkan kota-kota prasejarah tersebut. Pada masa permulaan sejarah pemukiman di Indonesia, sudah terbentuk kota-kota tempat berkumpul dan juga beraktifitas bagi para penduduknya. Pada kota prasejarah banyak ditemukan situs pemukiman berkelompok dan juga belum ada penyebaran infrastruktur secara lebih luas. Kota prasejarah merupakan perwujudan kota-kota besar awal dunia, seperti Mesopotamia, Baghdad, Yunani, Romawi. Di Indonesia, beberapa pemukiman awal sudah dikategorikan sebagai kota prasejarah Indonesia atau disebut juga dengan kota kuno. Seperti Kota Demak, Cirebon, Banten Lama, ataupun di Gresik.
2. Kota Tradisional
Banyak kota-kota di Indonesia yang nerupakan warisan kota tradisional. Kota tradisional secara umum dapat dikatakan sebagai kota pusat kerajaan-kerajaan awal di Nusantara atau ibukota kerajaan yang ada sampai datangnya kekuatan Barat atau sebelum adanya pengaruh dan kekuatan kolonial. Kota tradisional umunya sebagai pusat kerajaan-kerajaan di masa lalu. Banyak kota-kota tersebut yang dibangun berdasarkan pertimbangan magis-religius atau kro-kosmos dan juga kepercayaan setempat. Terdapat kota tradisional yang dibangun berdasarkan garis imajiner dan ada juga yang dibangun berdasakan arah mata angin. Kota tradisional ditandai dengan pembagian yang jelas berdasarkan status sosial dan dekatnya kedudukan pemukiman dengan istana. Dalam kota tradisional terdapat simbol-simbol dari kekuasaan raja, hal ini diwujudkan dalam bangunan fisik, upacara-upacara, kraton, atau istana. Ciri kota tradisional tidak terbatas pada waktu. Misalnya di Surakarta meskipun di abad ke-19, kekuasaan Hindia Belanda sudah berlaku disini. Namun, aktivitas dan juga kekhasan kota tradisonal Surakarta sudah berlangsung dengan segala macam ritual dan juga kebiasaannya. Kraton Surakarta tetap menapakkan aura tradisionalnya tanpa banyak terpengaruh dengan keriuhan aktivitas kolonial.
3. Kota Kolonial
Kota kolonial merupakan hasil dari keinginan para penjajah untuk dapat memiliki sebuah tempat hunian yang memiliki kesamaan seperti tempat asal para penjajah, bercirikan adanya segresi etnis, sosial dan budaya. Kota kolonial identik dengan bentukan benteng yang di dalamnya terdapat tempat bekerja, tempat tinggal, tempat bersosialita, rumah ibadah vrijmetselarij. Dalam buku yang berjudul The Southeast Asian City, Mc Gee mengemukakan juga beberapa ciri kota kolonial seperti adanya sebuah permukiman yang terencana untuk para pedagang yang datang dan juga para penguasa atau penjajah. Di Indonesia, kota kolonial pertamanya adalah Batavia. Kota Batavia dibangun atas dasar penguasaan dagang, pusat pemerintahan kota dan markas besar VOC, transaksi dagang yang menghubungkan Batavia dengan pelabuhan lalu lintas Indonesia naik antar kota maupun antar pulau bahkan dengan negara luar. Perkembangan kota kolonial Belanda di Indonesia terbagi menjadi dua tahap, tahap pertama perkembangan kota kolonial pada daerah pesisir dan sungai. Tahap selanjutnya perkembangan kota kolonial pada daerah pedalaman. Dari dua tahapan perkembangan kota kolonial tersebut memperlihatkan perbedaan orientasi, visi misi dan tujuan yang kontras dari penjajahan Belanda di Indonesia.
D. Kota modern
Kota modern dipandang sebagai kota yang maju dan mampu memenuhi kebutuhan hidup orang banyak, terutama kualitas kehidupan yang mumpuni menjadi hal wajib pada kota modern. Kota ideal adalah kota yang mampu menyelaraskan sosial, fisik, dan ekonomi berbalut dengan budaya dan sejarah yang dimiliki oleh kota tersebut.
a. Masyarakat Sejahtera dalam finansial
Kota modern harus didukung oleh masyarakat yang sejahtera dalam finansial, walaupun tidak semua masyarakat golongan keatas, tetapi setidaknya kota modern mampu mengangkat masyarakat nya menjadi masyarakat kelas elit walaupun tidak mapan. Artinya walaupun masyarakat nya kelas bawah, tetapi kota tersebut tetap menyediakan fasilitas kelas satu untuk masyarakat itu.
b. Kota terdepan dalam pelayanan
Kota modern harus menyediakan pelayanan dan selalu mengedepankan layanan nya guna menarik para human urban untuk tinggal dan menetap pada kota modern itu. Pelayanan- pelayanan yang dikedepankan adalah pelayanan – pelayanan umum yang mampu memenuhi kebutuhan para pengguna kota atau masyarakat umum.
c. Visual kota mengundang pesona
Kota yang ideal dan modern dapat dilihat dari fisiknya, secara visual kota terlihat tertata. Secara kenyamanan dapat dirasakan langsung dan tidak perlu melihat dengan cara - cara yang lain lagi. Karena visual dan pesona telah merubah rasa ketidaknyamanan menjadi sesuatu yang lebih menarik dan mengundang.
Salah satu ciri khas kota modern adalah pembagian pemukiman yang kebanyakan berdasarkan atas kelas sosial. Terlihat makin tergesernya penghuni kota yang lama oleh penghuni baru yang menempati bagian-bagian kota strategis. Bangunan fisik kota juga mengalami perubahan sesuai dengan pergeseran kelas itu. Dalam kota modern, pembagian penduduk berdasarkan kelas sosial dengan mobilitas sosial yang lebih lentur, juga ditinggalkannya cara berproduksi manusia oleh mesin yang memproduksi barang - barang secara massal dengan pelayanan dan kualitas yang baik, organisasi produksi dipegang oleh unit-unit ekonomi yang cenderung besar dan lebih rasional. Hal lain yang mengemuka dalam pembahasan tentang kota modern adalah tema urbanisasi. Berbagai dinamika dan problematika urbanisasi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari ide-ide kemodernan pada sebuah kota. Kemajuan sebuah kota akan selalu seiring dengan pesatnya perkembangan penduduk perkotaan. Pembahasan tentang sejarah kota pada aspek modern tidak semata-mata pada hal-hal yang dianggap baru dan pembangunan fisik modernisasinya, tetapi juga pada permasalahan sosial dari modernisasi itu sendiri. Persoalan sosial itu seperti kemiskinan, kriminalitas, prostitusi, aborsi, dan tuntutan-tuntutan pelayanan pendidikan dan kesehatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar