Jumat, 03 Juni 2022

SEJARAH WANITA

Sejarah Wanita

Mata Kuliah-Ilmu Sejarah

Pengertian Wanita 

Peran kaum wanita tidak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa Indonesia. Kaum wanita memiliki peran yang terbilang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejarah gerakan wanita tidak bisa dilepaskan dari sejarah kemerdekaan Republik. Merekalah perintis dari perjuangan hak-hak kemerdekaan yang menyangkup masalah wanita. Perlu disadari, tanpa adanya mereka akan sangat mungkin hak-hak kaum wanita sekarang tidak akan tercapai.
Kata perempuan dalam kamus bahasa Indonesia dikenal dengan wanita yaitu lawan dari laki-laki. Secara etimologi, wanita didefinisikan sebagai manusia, perempuan yang dewasa.
Pemakaian istilah wanita diambil dari bahasa Sansakerta yang artinya “Yang diinginkan kaum laki-laki”. Istilah wanita berasal dari kata wani ( berani ) dan ditata ( diatur ) . Yang memiliki arti , seorang wanita adalah sosok yang berani dan mudah untuk ditata atau diatur . Dalam kehidupan praktis masyarakat jawa , wanita adalah sosok yang selalu mengusahakan keadaan untuk dapat tertata dengan baik sehingga untuk itu pula dia harus menjadi sosok yang berani dan mudah untuk ditata. Selain itu , adapula yang mengartikan wanita yang berasal dari kata wani ( berani ) dan tapa (menderita) . Yang memiliki arti wanita adalah sosok yang berani menderita bahkan untuk orang lain . Ada istilah lain yang sering kita dengar selain kata wanita, yaitu perempuan . Sedangkan akar kata “ perempuan ” adalah empu yang memiliki arti guru.
Kedudukan Wanita Dalam Perjalanan Sejarah

Kemerdekaan Republik Indonesia juga tidak bisa terlepaskan dari gerakan kaum wanita. Merekalah yang merintis perjuangan hak – hak kemerdekaan yang menyangkup semua masalah wanita. Perlu disadari tanpa adanya jasa dari mereka akan sangat mungkin hak – hak kaum wanita sekarang tidak akan tercapai. 
Sejarah pergerakan wanita di Indonesia ditandai dengan adanya kebijakan politik etis oleh Belanda di Hindia Belanda. Kebijakan itu membuat pendidikan Eropa masuk dan mulai memperkenalkan pendidikan modern bagi wanita. Periode pertama, yaitu periode melek huruf ditandai dengan masuknya pendidikan modern dan mulainya wanita – wanita Indonesia berliterasi dengan berbagai sumber pustaka. 
Sekolah wanita pada saat itu kebanyakan berada disekitar wilayah perkebunan – perkebunan Belanda , dengan tujuan supaya wanita yang sudah lulus bisa diarahkan untuk bekerja di perkebunan Belanda. Harapan pemerintah kolonial dengan adanya sekolah adalah agar bisa mencetak kaum wanita bumiputra yang berpandangan bahwa Belanda untuk melanjutkan kolonialismenya . Tapi ternyata salah, wanita - wanita yang sudah diberi pendidikan ternyata menjadi lebih kritis dan mulai menyadari identitasnya sebagai kaum yang terjajah. 
Setelah periode melek huruf , periode kedua adalah periode melek nasionalisme. Wanita mulai sadar akan pentingnya suatu pergerakan wanita, ditandai dengan adanya kongres perempuan 1 pertama di Yogyakarta pada 22 Desember 1928. Kongres pertama ini membahas tentang konsolidasi perempuan dalam rangka memerdekakan Indonesia dan berhasil membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia ( PPI ) yang terdiri dari kumpulan berbagai organisasi wanita . 
Setelah kemerdekaan , pergerakan wanita tidak lagi berbentuk fisik , wanita kini bergerak untuk memperjuangkan hak mereka salah satunya adalah hak pilih . Dimana pada tahun 1955 akhirnya wanita di Indonesia dapat memilih dalam Pemilihan Umum dan bahkan menjadi anggota parlemen . Muncul pula UU No. 80 tahun 1958 mengenai kesamaan gaji antara wanita dan pria untuk pekerjaan yang sama . Namun , di tahun – tahun ini permasalahan bagi wanita adalah poligami . Mereka ingin Indonesia melarang poligami sepenuhnya .
Setelah naiknya Soeharto menjadi presiden , ada beberapa fenomena positif dan negative bagi kaum perempuan, diantaranya : 
1.  Dampak Positif : 
a. Pertama , dikeluarkannya UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang secara tidak langsung membatasi pegawai negeri laki – laki untuk melakukan poligami . 
b. Kedua , dibentuknya Kementrian Muda Urusan Peranan Wanita pada Kabinet Pembangunan pada tahun 1974 ( yang akhirnya berganti nama menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ) , kementrian ini menjadi symbol legitimasi yang diberikan Negara kepada perempuan Indonesia untuk mengambil peran ranah dipublik . Melalui kementrian ini pula banyak kebijakan kebijakan publik yang mendukung pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender . 
2. Dampak Negatif :
a. Pertama , beberapa kebijakan public yang mereproduksi superioritas laki – laki atas perempuan, yang paling menonjol terlihat dari berdirinya organisasi –organisasi istri , contohnya : Dharma Wanita , Persit Kartika , Candra Kirana , dan lain sebagainya . Posisi wanita dalam struktur hanya didasarkan atas posisi suaminya , bukan karena kemampuan mereka sendiri .
b. Kooptasi organisasi masyarakat yang akhirnya ikut membatasi ruang gerak organisasi perempuan karena tidak boleh berseberangan dengan keinginan penguasa dan tidak mampu menentukan gari perjuangannya secara bebas .
Sejarah Perjuangan Gender Wanita 
Isu gender memang selalu menarik perhatian banyak orang. Tidak hanya Indonesia yang memiliki masalah diskriminasi gender, namun banyak dari negara-negara di dunia juga mengalaminya. Bahkan negara sekelas Inggris dan Jerman pun mengalami diskriminasi gender sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Pergerakan feminisme di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak masa kuna. Hal ini dibuktikan dengan munculnya tokoh kejayaan nusantara seperti Ratu Sima, Sanggramavijaya, Dharma Prasada Tungga Dewi, Ken Dedes, Kusumawardhani, dan nama-nama lainnya.
Kehidupan perempuan selalu diliputi tradisi-tradisi yang masih sangat terbelakang seperti halnya mengurus dan mengatur rumah tangga,serta mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Hak-hak hidupnya sangat dibatasi, bahkan perempuan sering diibaratkan sebagai orang yang hanya mengetahui kehidupan dapur, sumur, dan kasur. Perbedaan masa modern kolonial dengan masa kuna terletak pada perkembangan teknologi yang semakin pesat, sehingga pendidikan menjadi peranan penting dalam kehidupan. Hak perempuan tentu berbeda dengan laki-laki yang dalam kehidupannya tidak pernah dibatasi baik kebebasan di luar rumah, bersekolah menduduki jabatan  dalam masyarakat, serta semua kebebasan yang tidak dimiliki oleh kaum perempuan. Kondisi inilah yang kemudian melatarbelakangi awal perjuangan feminisme di Indonesia masa modern.Pionir perjuangan kesetaraan gender di awal masa modern tidak terlepas dari kiprah R.A. Kartini. Kartini merupakan anak kedua dari Bupati Jepara yang kemudian pindah ke Rembang karena pernikahannya dengan Raden Joyodiningrat. Kondisi Kartini yang pernah mengenyam pendidikan pada saat kecil menjadikan Kartini memiliki cita-cita perjuangan jauh ke depan khususnya dalam menyetarakan hak-hak perempuan. Beberapa ide gagasan Kartini yakni :
a) pendidikan bagi perempuan adalah syarat paling penting dalam kehidupan
b) perempuan harus diberi kesempatan untuk menentukan pekerjaan yang cocok untuk mereka
c) penghapusan poligami karena merendahkan martabat perempuan
d) gagasan yang sangat berpotensi meningkatkan kesejahteraan perempuan tentu tidak dapat terpenuhi dengan mudah.
. Sejarah Pergerakan wanita Indonesia 
1. Gerakan Perempuan Pada Masa Kolonial 
Gerakan perempuan di Indonesia, bisa kita pelajari mulai dari Masa kolonial (sebelum 1945). Pada masa itu, muncul tokoh-tokoh perempuan di daerah-daerah yang aktif melawan penjajah untuk meraih kemerdekaan. Seperti di aceh ada Cut
Nya Dien (komandan perang aceh) dilanjutkan perjuangan Cut Mutia. Ratu Sima
menjadi pemimpim perempuan yang jujur di Jateng, selain itu ada juga RA Kartini yang kita kenal sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Pada masa colonial gerakan wanita semakin terasa di tahun 1928 dengan diselenggarakannya kongres Perempuan 1 pada 22-25 Desember di Yogyakarta dengan tujuan memperjuangkan hak-hak perempuan terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan. 
2. Gerakan Wanita Pada Masa Pasca Kolonial
Pada masa pasca kolonial 1945-1966, gerakan perempuan semakin mewarnai kemerdekaan bangsa Indonesia. Kala itu muncul PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang terbentuk tanggal 17 Desember 1945. Sewaktu berlangsung perang, kegiatan PERWARI merupakan kegiatan “homefront”, mengurus dapur umum dan membantu PMI. Setelah perang kemerdekaan reda, PERWARI menggiatkan diri dalam mengisi kemerdekaan dengan memusatkan perhatiannya dalam bidang Pendidikan. Juga ada GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) yang aktif di tahun 1950-1960-an. Gerwani merupakan organisasi independen yang memberikan perhatian pada reformasi sistem hukum di Indonesia untuk membuat wanita dan pria sama di mata hukum termasuk hukum perkawinan, hak-hak buruh, dan nasionalisme Indonesia. Pada skala lokal, Gerwani juga memberikan dukungan individu untuk perempuan yang telah disalah gunakan atau ditinggalkan oleh suami mereka 
3. Gerakan Wanita Pada Masa Orde Baru 
Pada masa orde baru (1967-1998), Gerakan perempuan seolah-olah mati bahkan dimatikan dengan munculnya organisasi-organisasi bentukan pemerintah, seperti Dharma Wanita yang isinya istri-istri PNS, kemudian ada PKK yang isinya istriistri pejabat. Organisasi-organisasi tersebut memainkan perannya bahwa kewajiban perempuan itu adalah mengerjakan urusan-urusan domestik dalam istilah yang saat ini populer adalah “macak, manak, masak”, “Manut ing Pandum” dan “Konco Wingking” Jargon-jargon tersebut ternyata sangat mudah dan cepat sekali diterima perempuan-perempuan pada masa itu, dimana peran perempuan dalam publik sangat minim bahkan perempuan cenderung dijadikan alat politik oleh pengusasa untuk melanggengkan kekuasaanya. Dan itu berlangsung selama 32 tahun. Di balik peristiwa  tersebut ternyata banyak perempuan-perempuan yang kritis dan sadar akan hak-haknya. Menjelang awal millennium baru, muncul banyak perempuan Indonesia yang berani mengekspresikan idenya dengan tulisan atau buku. Ayu Utami adalah salah satu yang kemudian muncul lewat bukunya tentang seksualitas.
Kemudian ada Saparinah Sadli, Marsinah dan yang lainnya.
4. Gerakan Wanita Reformasi – Sekarang 
Gerakan perempuan di Indonesia kemudian berhasil mendorong pemerintah Indonesia untuk meratifikasi CEDAW lewat UU no. 7 tahun 1984 yang memiliki konsekuensi mengikat bagi negara untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi perempuan warganya.CEDAW yaitu Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women yang merupakan konvensi internasional yang mengkhususkan diri pada isu hak asasi perempuan khususnya penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan Periode ini juga diwarnai lahirnya Beijing Platform (1995) dalam Konferensi Dunia Tentang Perempuan ke- 4. Dan awal dimulainya reformasi sampai sekarang, banyak organisasi perempuan yang muncul sebagai perwujudan gerakan perempuan dalam berserikat seperti Komnas perempuan, Jurnal Perempuan, JARPUK ( jaringan perempuan usaha kecil ), Fahmina (majalah wanita) , PEKKA (perEmpuan kepala keluarga), FAMM (forum aktivis perempuan muda) dsb. Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah bagi gerakan perempuan di Indonesia untuk memperjuangkan hak-haknya khususnya hak-hak kaum perempuan yang termarginalkan. 

E. Contoh kajian sejarah wanita 
1. R.A Kartini 
R.A. Kartini adalah salah satu tokoh yang berbeda dari beberapa tokoh lainnya, karena dengan keberhasilan dan kegigihannya atau semangat perjuangan emansipasinya dijadikan sebagai bentuk kepahlawanan  . R.A. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya ialah Raden Mas Adipati Sosroningrat, seorang Bupati Jepara. Raden Ajeng Kartini berdiri tidak hanya sebagai tokoh, tetapi juga tokoh yang monumental. Keberaniannya melampaui perempuan pada masanya, maka tak heran jika ia dinilai sebagai pelopor yang menegakkan tonggak perjuangan perempuan. Perjuangan yang disuarakan oleh Kartini terhimpun rapi dalam surat-suratnya yang kemudian dibukukan: Habis Gelap Terbitlah Terang (1963). Isi surat-suratnya seputar perlawanan dan kritik sosial atas kesewenang-wenangan yang dilakukan golongan laki-laki pada saat itu.
Kartini memprotes keras kawin paksa (pernikahan yang dipaksakan kepada seorang perempuan, padahal belum pernah mengenal lelaki yang hendak menikahinya, bahkan belum pernah melihat batang hidungnya sama sekali), poligami (pada saat itu sudah menjadi hal yang biasa ketika seorang laki-laki memiliki lebih dari satu istri, dan semua istri tersebut tinggal dalam rumah yang sama), perceraian dengan tanpa alasan yang jelas, tradisi seorang perempuan ketika sudah dewasa harus dipingit (diam di rumah) dan baru boleh keluar rumah setelah bersuami, dan kurangnya akses pendidikan terhadap perempuan. Pendidikan yang memiliki fungsi memerdekakan dan memartabatkan menjadi satu-satunya alat yang harus dikuasai perempuan untuk melawan penindasan yang selama ini ditujukan kepadanya. Dengan belajar, kaum perempuan akan terdidik, tercerahkan, dan tercerdaskan. Menjadi manusia seutuhnya yang bebas memilih pilihan hidup berdasarkan pertimbangan akal budi. Maka dari itu, atas keresahan dan segenap permasalahan yang menimpa kaum Perempuan, Kartini fokus pada pendidikan sebagai solusi dari ketidakadilan.Kartini menaruh perhatian yang luar biasa pada pendidikan perempuan. Hal tersebut menjadi landasan paling mendasar pergerakan perempuan Indonesia dari dulu hingga kini. Kartini merumuskan lima konsep pendidikan perempuan :
1. Perempuan merupakan tempat pendidikan pertama
Secara kodrati memiliki rahim yang menjadi sumber kelahiran seorang insan, maka manusia pertama yang memiliki tanggung jawab dalam mendidik adalah perempuan.
2. Perempuan merupakan pembawa peradaban
Dalam salah satu suratnya, Kartini menulis: “Dari semenjak dahulu kemajuan perempuan itu menjadi pasal yang paling penting dalam usaha memajukan bangsa. Kecerdasan pikiran penduduk Bumiputra tiada akan maju dengan pesatnya, bila perempuan itu ketinggalan dalam usaha itu.
Perempuan jadi pembawa peradaban!”.
3. Pendidikan itu mendidik budi dan jiwa.
Dengan kata lain, pendidikan tidak hanya bertugas memberikan pencerahan bagi intelektualitas, tetapi juga satu paket lengkap dengan emosionalitas.
4. Pendidikan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan untuk kemajuan bangsa. Dalam membangun kesatuan kehidupan berbangsa, maka hal paling fundamental adalah menata peradaban dengan pendidikan. Hal tersebut akan terwujud apabila pendidikan antara kaum laki-laki dan perempuan setara, agar tujuan yang hendak dicapai akan lebih mudah digapai karena terdapat kerja sama dan harmonisasi.
5. Pendidikan untuk cinta tanah air.
Dalam satu suratnya, Kartini menulis: Kami sekali-kali tiada hendak menjadikan murid-murid kami jadi setengah orang Eropa, atau orang Jawa kebelanda-belandaan. Maksud kami dengan mendidik bebas, ialah terutama sekali akan menjadikan orang Jawa itu, orang Jawa yang sejati, orang Jawa yang berjiwa karena cinta dan gembira akan tanah air dan bangsanya, yang senang dan gembira melihat kebagusan, bangsa dan tanah airnya dan kesukarannya.

2. Dewi sartika 
Hal ini didorong oleh keadaan keluarganya sendiri. Dewi Sartika menyaksikan penderitaan ibunya sendiri akibat ditinggalkan oleh ayahandanya, karena harus  menjalani hukuan buang di Ternate. Sejak 1902, Dewi Sartika dihadapan anggota keluarganya yang perempuan, merenda, memasak, menjahit, membaca, menulis menjadi materi pelajaran saat itu Martanegara adalah seorang Bupati yang berfikir majur (progresif) zamannya. Dewi Sartika berkonsultasi dengan bupati Martinegara. Bupati Martanegara tidak menyetujui niat Dewi Sartika untuk membuka sekolah untuk anak-anak perempuan, karena menurut pendapatnya akan mendapat tantangan yang keras dari masyarakat. Sekolah untuk perempuan yang diusahakan seorang putri priyayi jelas bertentangan dengan adat dan bangsawanan. kan tetapi penolakan ini tidak mengecilkan hati Dewi Sartika, berulang kali permohonan itu diajukan. akhirnya Bupati menyetujuinya dan pada tanggal 16 Januari 1904 didirikanlah "sekolah istri" (sekolah istri atau sekolah gadis), untuk jenisnya yang pertama kali di Indonesia. tempatnya di Paseban Kabupaten Bandung sebelah barat terdiri dari 2 kelas dengan dua puluh orang murid, dengan tiga orang pengajar yaitu Dewi Sartika, Ibu Purma dan Ibu Uwit.
Pada tahun 1905 Dewi Sartika melakukan penambahan kelas sehingga pindah ke jalan Ciguriang, Kebon Cao. Di tempat yang sekarang masih dipergunakan sebagai tempat belajar sekolah-sekolah yayasan Dewi Sartika. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, sera bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemapuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910 menggunakan harta benda, untuk memperbaiki sekolahnya lagi, sehingga bisa lebih memenuhi syarat kelengkapan sekolah formal. Penyempurnaan dalam rencana pelajaran dilakukan. Pedomannya adalah pola pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dasar pemerintah waktu itu, dengan menekankan pada pelajaran-pelajaran keterampilan wanita seperti menjahit, menambal, menyulam, merenda, memasak, menyajikan makanan, belajar agama.  Pada tahun 1911 Dewi Sartika menghadiri undangan Sarekat Islam yang sedang mengadakan pertemuan, dan Dewi Sartika memberikan ceramah tentang pendidikan wanita. Juga pada tahun 1914, atas sponsor Sarekat Islam, di Bandung diadakan pertemuan Perkumpulan "Madjoe Kemoeljaan" untuk memberantas pelacuran. Mengenai lapangan kerja bagi wanita dan perbedaan upah buruh wanita dengan pria, serta kesejahteraan buruh wanita, Dewi Sartika mempunyai pandangan yang jauh mendahului pandangan pelopor wanita angkatannya. Menurut pendapat Dewi Sartika pendidikan sekolah saja, bagi wanita tidak cukup. Lebih perlu lagi perluasan pendidikan kejuruan, yang akan memberikan kecakapan dan keterampilan khusus bagi wanita, sehingga ia mampu bekerja sesuai dengan kecakapannya. bidang pekerjaan sepeti bidan, penata, tukang batik, pemegang bako, penanam bunga, intinya pekerjaan yang selama ini dianggap oleh masyarakat kita tidak pantas untuk wanita dan hanya diperuntukkan bagi kaum pria, akan sangat menggembirakan apabila dibuka pendidikannya bagi wanita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMERINTAHAN ORDE BARU

  Latar Belakang Lahirnya Orde Baru Mata kuliah - Sejarah Indonesia       Setelah Gerakan 30 September dapat ditumpas, berdasarkan berbagai ...